Selasa, 28 April 2026

Liga Indonesia

Agus Yuwono Pikirkan Langkah Banding ke Komdis PSSI

Mantan pelatih Gresik United, Agus Yuwono tengah berpikir untuk melakukan banding atas sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Penulis: Sigit Nugroho |

WARTA KOTA, PALMERAH - Mantan pelatih Gresik United, Agus Yuwono tengah berpikir untuk melakukan banding atas sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Keputusan Komdis PSSI menyebutkan Agus Yuwono dihukum berupa larangan beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI selama 5 tahun.

Hukuman itu disebabkan Agus Yuwono dianggap mangkir dengan tidak memenuhi undangan dari Komdis PSSI untuk menjelaskan terkait dugaan pengaturan skor atau match fixing saat melatih Gresik United.

"Saya sedang intensif meminta pendapat dari ahli hukum terkait rencana banding. Saya juga sedang mengumpulkan dana untuk berangkat ke Jakarta, karena kondisi seperti sekarang membuat saya tidak mudah memperoleh uang untuk transportasi. Sampai sekarang saya belum mendapat klub untuk dilatih," kata Agus Yuwono kepada Super Ball, Senin (26/10).

Rencananya Agus Yuwono akan datang seorang diri ke Komdis PSSI.

Dia tidak sanggup membayar kuasa hukum sebagai pendampingnya.

Namun dirinya sedang memikirkan langkah yang tepat agar tidak ada pihak-pihak yang tersudutkan.

"Saya tidak terlibat di match fixing. Oleh karena itu, saya akan berusaha menjelaskan ke Komdis PSSI duduk permasalahan sesungguhnya tanpa menyudutkan pihak-pihak manapun, baik manajemen Gresik United dan PSSI. Karen pada dasarnya saya hanya menceritakan pengalaman saat ada orang yang meminta untuk mengatur skor, tetapi saya menolaknya," ujar Agus Yuwono.

Agus Yuwono berucap dari pembicaraan dengan ahli hukum, keputusan dari Komdis PSSI tidak memiliki kekuatan hukum, karena PSSI dalam status dibekukan oleh pemerintah.

Apalagi kalau alasan pemberian sanksi, karena dirinya tidak memenuhi panggilan Komdis PSSI.

"Sebenarnya saya sudah menjelaskan alasan saya tidak bisa memenuhi panggilan itu melalui email. Saya tidak punya dana untuk berangkat ke Jakarta. Sedangkan Komdis PSSI hanya menjanjikan dana transportasi sebesar Rp 1 juta. Itu tidak akan cukup. Oleh karenanya Komdis PSSI berjanji akan datang ke Malang untuk menemui saya. Tetapi nyatanya itu tidak dilakukan dan tiba-tiba saya diberikan sanksi. Ini merugikan saya tidak bisa melatih," jelas Agu Yuwono.

Agus Yuwono akan mencari waktu yang tepat untuk mendatangi Komdis PSSI.

"Saya punya waktu selama tiga bulan untuk melakukan banding. Saya akan menjelaskan alasan saya membeberkan pengalaman menemui match fixing dan tidak bisa memenuhi panggilan Komdis PSSI," ucap Agus Yuwono.

Sampai sekarang Agus Yuwono belum menerima surat resmi terkait sanksi yang diperolehnya itu.

"Sebelum sanksi diturunkan, saya tidak diajak berkomunikasi atau surat peringatan resmi dari Komdis PSSI. Malahan saya tahu ada sanksi itu dari media. Ini menjadi aneh, padahal menyangkut masa depan saya sebagai pelatih. Paling tidak sebelum dikeluarkan sanksi, ada surat peringatan terlebih dulu," tutur Agus Yuwono.

Untuk melakukan banding, sebenarnya Agus Yuwono sudah ditawari pendampingan hukum oleh beberapa ahli hukum, namun dia belum menerimanya.

"Dengan apa saya bisa membayar mereka. Untuk memenuhi panggilan dari Komdis PSSI saja tidak bisa, karena saya memang sedang kesulitan keuangan. Jadi saya akan memikirkannya. Kemungkinan saya akan datang sendiri ke Komdis PSSI," terang Agus Yuwono.

Agus menambahkan, masalahnya tidak selesai di situ, karena manajemen Gresik United meminta dirinya mengkonfirmasi terkait adanya pengaturan skor di timnya.

"Saya jadi pihak yang dirugikan tetapi justru saya diminta oleh manajemen Gresik United untuk mengkonfirmasi. Padahal saya tidak menerima uang apapun terkait adanya match fixing itu. Jadi masalah saya jadi double," tambah Agus.

Agus Yuwono memprotes hukuman sepihak itu.

"Saya justru menjelaskan kepada publik, ada pengaturan skor. Saya tidak terlibat di dalamnya. Jadi aneh, kalau malah saya yang dikenai sanksi. Saya akan menerima sanksi itu, kalau memang terlibat dalam match fixing dan menerima uang dari pihak tertentu. Saya jadi merasa dikorbankan oleh PSSI. Ada apa, justru saya yang dikenakan sanksi," terang Agus.

Agus memaparkan, keterangannya beberapa bulan lalu terkait adanya praktik suap, justru untuk memberikan informasi kepada PSSI.

"Seharusnya PSSI berterima kasih dengan informasi yang saya berikan, bukannya malah saya yang dikenakan sanksi. Ini benar-benar aneh. Atas dasar apa Komdis PSSI memberikan sanksi. Saya yang berikan informasi, kenapa justru saya yang diberikan sanksi," papar Agus.

Agus menegaskan, praktik match fixing yang dialaminya itu saat melatih Gresik United.

Kala itu di Liga Super Indonesia (LSI) musim 2013, saat Gresik United melawan Persik Kediri dan Barito Putera.

"Sebelum pertandingan BS menelepon saya untuk mengalah dengan imbalan uang Rp 200 juta di masing-masing dua pertandingan tersebut. Kala itu saya jawab, saya tidak mau menerima uang itu, karena saya ingin tim menang. Akhirnya pertandingan berjalan tanpa match fixing dan hasilnya kami imbang 1-1 dengan Persik Kediri dan 2-2 dengan Barito Putera," tegas Agus.

Beberapa bulan lalu BS justru mengajak Agus untuk menjelaskan kepada publik terkait match fixing tadi.

"Saat itu BS berjanji akan membuktikan terkait match fixing di dua pertandingan tim saya. Karena saya menolak praktik buruk dan mendukung kebersihan pertandingan, saya pun menerima ajakan BS. Jadi tujuan saya sebenarnya adalah menolak match fixing dan memberikan informasi kepada publik dan PSSI yang seharusnya bisa menyelidikinya," ucap Agus.

Sebelumnya diberitakan, Komdis PSSI menetapkan sejumlah hukuman baru kepada dalang pelaku sepakbola gajah yang melibatkan PSS Sleman dan PSIS dalam babak 8 besar Divisi Utama.

Suparjiono, manajer PSS dilarang beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup. Ia dinilai menjadi dalang dan seharusnya mampu mencegah kejadian tersebut.

Sedangkan dari kasus lain Bambang Suryo yang dikenal dengan inisial BS dan pelatih Gunawan juga sama terkena hukuman larangan beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepakbola di lingkungan PSSI seumur hidup.

Terdapat satu nama lagi yang mendapat hukuman, yaitu Agus Yuwono.

Ia dihukum berupa larangan beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI selama 5 tahun.(get)

Berikut Keputusan Komisi Disiplin PSSI:
1. Supardjiono, Manajer PSS Sleman. Larangan beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup. (PSS Sleman vs PSIS Semarang, 26 Oktober 2014)
2. Bambang Suryo. Larangan beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup.
3. Gunawan. Larangan beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup.
4. Agus Yuwono. Larangan beraktivitas dalam kegiatan yang terkait sepak bola di lingkungan PSSI selama 5 tahun.

Profil Agus Yuwono:
Lahir: Malang, Jawa Timur, 18 November 1970

Karir

-Persidafon Dafonsoro (2010-2011)
-Persijap Jepara (2011-2012)
-Arema LPI (2013, setengah musim)
-Persidafon Dafonsoro (Juni 2013-November 2013)
- Gresik United (Desember 2013 - 21 April 2014)
- Arema U-21 (2014)
- Persik Kediri (2015)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved