Kriminalitas
Gadis Ini Pasrah Setelah Tangannya Dipegang Pria Asal Cianjur
Siti Komariah (18) hanya bisa pasrah saat menyadari barang-barang berharga milik majikannya, Samuel Winata, dirampok hingga nilainya mencapai lebih da
WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK - Siti Komariah (18) hanya bisa pasrah saat menyadari barang-barang berharga milik majikannya, Samuel Winata, dirampok hingga nilainya mencapai lebih dari miliaran rupiah, pada Kamis (24/09/2015) lalu, di Kawasan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.
Di halaman Polres Metro Jakarta Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Siti yang kini turut menjadi tersangka, mengaku dirinya dihipnotis oleh kedua pria asal Cianjur, Jawa Barat, yakni Donny Ekaputra (46) dan Nana Andrean (32), yang baru dikenalnya.
Selain lesu dan ketakutan saat akan diekspos oleh awak media, Senin (19/10/2015), wanita yang akrab disapa Siti ini pun menceritakan kronologis penghipnotisan yang terjadi pada dirinya, hingga perampokan itu terjadi.
"Saat itu saya sama teman seprofesi saya, Nur Anisah (14), seperti biasa belanja bulanan di pasar swalayan, untuk membeli bahan makan malam. Sesampainya di rumah, sekitar pukul 11.30 WIB, tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang menghampiri turun dari mobilnya untuk menanyakan alamat," kata Siti Komariah.
Siti mengaku, kala itu tangannya langsung dipegang oleh salah satu pria yang diketahui bernama Doni.
Siti mengaku dirinya pun langsung disuruh oleh Doni masuk ke dalam sebuah mobil minibus yang dikendarai oleh rekan Doni, yakni Nana.
"Enggak tahu kenapa mas, pas tangan dipegang, saya berasa seperti enggak sadar. Lalu, orang ini (Doni) di dalam mobil memegang tangan saya, dielus-elus, dan ujug-ujug meramal nasib saya lewat garis tangan. Katanya saya kena penyakit ganas," lanjut wanita yang baru bekerja di rumah majikannya selama tiga bulan tersebut.
Usai diramal, nomor handphone milik Siti dan Nur, diminta oleh pelaku. Kedua tak tahu, dirinya dan Nur akan dihubungi dengan tujuan salah satu trik kedua pelaku untuk melakukan aksinya.
Siti kembali menjelaskan, dirinya dan Nur juga dijanjikan, akan diberikan jimat apabila menuruti kemauan pelaku. Pengakuan Siti, tiga hari berselang, ia dan Nur dihubungi oleh pelaku.
Diketahui Siti, jimat dengan bungkusan warna merah berisi batu kerikil yang dijanjikan itu disebutkan oleh kedua pelaku yang memiliki khasiat dapat menyembuhkan orang sakit, menjaga kesehatan tubuh, serta terlindung dari marabahaya.
"Gak lama, saya dan Nur dihubungi oleh pelaku. Katanya kalau dituruti, dikasih jimat sakti. Pelaku meminta ke saya ambil linggis, dan congkel ruangan yang ada barang berharganya. Saya tetap gak sadar. Di situ saya disuruh pakai linggis, dan membuka lemari pakaian majikan saya. Ada dua jam tangan, harganya ditotal Rp 1 miliar. Itu sekitar pukul 22.00 WIB menyongkel lemari majikan saya," tutur Siti Komariah.
Sementara, diketahui aksi tersebut yang dilakukan Donny dan Nana untuk modal melakukan perekrutan sebuah organisasi masyarakat (Ormas).
Diketahui, ormas itu bernama Komunitas Bersama (Kombes) yang menjadi wadah pelaku, untuk menarik masa yang mayoritas pengangguran untuk masuk kedalamnya.
"Hasil uang buat narik orang biar nanti ada pilkada biar bisa dipake suaranya. Mereka dikasih kaos. Karena saya yakin bakal ada yang minat pake orang kita, buat menaikkan suara salah satu calon," terang Donny.
Ia mengaku, hingga saat ini sudah ada sekitar 200 orang yang tergabung dalam ormas yang dibentuknya. Kebanyakan warga yang ikut berasal dari Cianjur Selatan.
"Ga ada cara lain aja buat mencari dana buat bentuk ormas. Lagian saya juga belum cek harga barang yang kemarin dirampok sama temen saya (Nana)," akuinya.
Ia juga mengaku, memberikan dua buah linggis kepada dua korbannya itu untuk mempermudah proses pencurian.
Tak lupa, pria yang memiliki kemampuan gendam itu juga mengambil dua buah telepon genggam milik pembantu tersebut dan langsung melarikan diri ke arah Cianjur.
"Setelah mereka memberikan barang hasil curian, saya memberikan jimat yang dijanjikan itu, dan menyuruh keduanya pulang ke rumah majikannya," kata Doni.
Survei seminggu
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Susetio Cahyadi, mengatakan, pelaku sudah melakukan pemetaan untuk melihat potensi kesulitannya.
"Mereka survei seminggu, dan dipilih mana rumah yang memang ada penghuninya," kata Susetio.
Pelaku Donny, terang Susetio, diketahui berprofesi sebagai pemborong, sedangkan Nana sebagai penjual batu akik.
"Pengakuannya ini yang pertama. Kedua pelaku juga udah sudah berkeluarga. Tapi kita masih terus dalami motif lain dari pelaku," ungkap Kapolres.
Terkait jimat yang digunakan, Susetio meyakinkan, jimat yang dimaksud bukanlah benda mistis yang ditakutkan orang banyak. Namun hanya batu kerikil biasa.
"Isinya padahal cuma kerikil dan bukan alat penyembuh penyakit," ujar Susetio Cahyadi.
Susetio Cahyadi menjelaskan, aksi yang dilakukan oleh kedua pelaku merupakan modus baru di wilayah hukum Jakarta Utara.
Mantan Kepala Biro (Karo) Sumber Daya Manusia Kepolisian Daerah Kepulauan Riau itu juga mengungkapkan pelaku memiliki ilmu spiritual untuk memperdaya kedua pembantu rumah tangga.
"Pelaku (Doni dan Andrean) tidak langsung melakukan aksi kekerasan, tetapi pelaku memperkenalkan diri layaknya orang biasa, hal ini yang harus diwaspadai masyarakat. Sementara hasil perampokan kedua pelaku itu bahkan digunakan untuk membuat dan melatih sebuah kelompok massa agar dapat melakukan hal sejenis," kata Susetio Cahyadi.
Barang bukti yang diamankan oleh polisi dari hasil pencurian dan aksi gendam dari kasus ini, yakni seuntai kalung emas putih, liontin emas, beberapa mata uang asing dan rupiah, delapan buah lempengan koin emas, dua buah jam merek Rolex, dan dua buah linggis.
"Selain itu ada juga dua buah obeng, satu bungkus plastik berisi kain warna merah (jimat), sebuah peci warna hitam, satu lembar kwitansi pembelian jam tangan, sebuah kotak perhiasan, dan satu unit mobil Daihatsu Xenia warna biru dengan nomor polisi B2842I," ucap Susetio Cahyadi.
Atas perbuatan pelaku dan pembantu rumah tangga tersebut, keempatnya dikenakan dengan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. (Panji Baskhara Ramadhan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/komunitas-kombes_20151019_174323.jpg)