Selama Diselemuti Dugaan Korupsi, Program PGN Sulit Diwujudkan

Program yang dicanangkan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli akan sulit direalisasikan, selama dugaan korupsi di BUMN tidak diatasi.

Selama Diselemuti Dugaan Korupsi, Program PGN Sulit Diwujudkan
Panji Baskhara Ramadhan
Ilustrasi. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) dan senior fellow Indonesia Resources Studies (IRESS), Adhie Massardi menilai, gagasan pipanisasi gas yang dicanangkan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, akan sulit terwujud jika BUMN yang diandalkan untuk menjadi pelaksana program tersebut  masih diselimuti isu korupsi.

Adhie menyatakan, pejabat penting PT Perusahaan Gas Negara (PGN), BUMN yang bakal ditugasi menjalankan pipanisasi tersebut ditengarai terlibat berbagai kasus KKN.

"Perlu pembersihan di tubuh PGN sebelum program pipanisasi dijalankan," ujar Adhie di Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Adhie mengatakan, sesuai dengan laporan dari internal PGN, yang menyatakan, ada dugaan kasus KKN, yang melibatkan petinggi PGN HPS. 

"Yang bersangkutan telah diduga memberikan margin tambahan senilai US$ 1 hingga US$ 2 per MMBTU kepada sebuah perusahaan swasta di Jawa Timur yang menjual gas alokasi Pemda ke PGN," katanya.

Dari margin tambahan tersebut, maka pelanggan harus menangggung beban mahalnya harga jual gas. Diperkirakan, kerugian negara mencapai USD 3 juta (sekitar Rp 40 miliar).

"Uang bancakan itu diduga disetorkan kepada para politisi nasional," ujar Adhie.

Kasus lain yang menjadi perhatian Adhie adalah dugaan pembelian gas oleh PGN melalui para calo di mana lokasinya ada di Jawa Timur, sekitar tahun 2013-2014.

"PGN diduga membeli gas sebanyak 75 BBTUD melalui perusahaan-perusahaan makelar, yang terkait dengan elit politik. Padahal, akan lebih murah jika PGN langsung membeli ke Pertamina," katanya.

Akibat praktik ini, kata Adhie, tahun 2013-2014, PGN mengalami kerugian USD 50 juta (sekitar Rp 800 miliar).

Halaman
12
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved