Perlu Peran Publik Mencegah Kepunahan Elang Jawa
Peran semua pihak agar elang Jawa terhindar dari ancaman kepunahan sangat dibutuhkan, burung ini menjadi lambang Negara Indonesia, Garuda.
WARTA KOTA, PALMERAH -- Peran semua pihak agar elang Jawa terhiundar dari ancaman kepunahan sangat dibutuhkan, burung ini menjadi lambang Negara Indonesia, Garuda.
Karena itu, burung ini harus dijaga karena termasung hewan langka.
Indonesia kaya flora dan fauna, yang selalu membuat banyak kalangan kagum.
Tidak hanya yang jumlahnya sangat banyak, namun juga karena jenisnya yang kebanyakan adalah khas dan unik.
Burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satunya.
Elang ini merupakan salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa.
Satwa ini sering dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, Garuda, sehingga banyak yang mencoba untuk memburunya meski sudah di tetapkan sebagai hewan yang dilindungi, demikian disampaikan Good News From Indonesia (GNFI), yang dikutip Warta Kota, Senin (12/10/2015).
Elang Jawa memiliki jambul menonjol sebanyak 2-4 helai memanjang sekitar 12 cm, karena itu Elang Jawa disebut juga sebagai Elang Kuncung.
Ukuran tubuh dewasanya sekitar 60-70 sentimeter, memiliki bulu coklat gelap pada punggung dan sayapnya.
Juga terdapat coretan coklat gelap dibagian dada dan bergaris tebal coklat gelap di perutnya. Ekornya berwarna coklat bermotif garis-garis hitam.
Habitat burung yang ditetapkan sebagai spesies endemik pada tahun 1953 lampau ini hanya terbatas di Pulau Jawa, terutama di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.
Seperti di Gunung Pancar, Gunung Salak, Gunung Papandayan, Gunung Slamet, Gunung Lawu, Gunung Merapi, Merubetiri, Baluran, Alas Purwo, dan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
Pengembangbiakan Elang Jawa terbilang cukup sulit. Di alam liar dalam waktu dua tahun, Elang Jawa betina dewasa berumur 3-4 tahun hanya bertelur satu kali dengan jumlah telur hanya satu selama kurun waktu 2-3 tahun.
Oleh karena itu, kemungkinan hidup anak Elang Jawa sangat kecil jika habitatnya terancam.
Burung yang sangat ikonik ini telah lama diteliti oleh para ilmuwan dan pecinta satwa.
Sejak penemuan spesimennya di tahun 1907 oleh Max Edward Gottlieb Bartels, para peneliti sepakat menetapkan di tahun 1980-an bahwa Elang Jawa adalah salah satu burung pemangsa paling langka di dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/elang-jawa_20151012_025942.jpg)