Koran Warta Kota

Mobil Tangki Air Disandera Warga Kalideres

“Sudah satu bulan warga kesulitan air. Susah cari air bersih, mati, nggak nyala-nyala airnya. Makanya kami demo dan cari mobil tangki yang lewat."

Mobil Tangki Air Disandera Warga Kalideres
RM Ksatria Bhumi Persada
Mobil tangki air dari Palyja mengisi tempat penampungan air yang akan digunakan untuk membersihkan Monas, Kamis (8/5/2014). 

WARTA KOTA, KALIDERES— “Sudah satu bulan warga kesulitan air. Susah cari air bersih, mati terus nggak nyala-nyala airnya. Makanya kami demo dan cari mobil tangki yang lewat,” ujar Juju (40) warga Gang Bawang, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (29/9).

Bahkan seorang ibu bernama Marina (36) nekat naik ke atas tangki penampungan air dekat tempat tinggalnya di Gang Bawang. Marina naik ke tangki itu untuk memastikan apakah air di tangki itu masih ada atau telah habis. Sebelumnya Palyja memasok air untuk tangki penampungan air itu pada Senin (28/9) sore. Ibu berusia 36 tahun ini menaiki tangki penampungan air dengan menggunakan tangga untuk mengecek kapasitas air.

“Saya mau lihat air di dalamnya masih cukup nggak buat warga sini. Tadi, ada lima mobil tangki Palyja yang kami tahan di sini, tapi cuma satu mobil saja yang mengisi air di tangki sekitar sini,” ucap Marina.

Pantauan Warta Kota di Gang Bawang RT 01/09, warga mengantre air bersih di depan mobil tangki berukuran besar berwarna biru. Mereka antusias mendapatkan air bersih secara gratis dan mengambilnya dengan beberapa jeriken serta ember.

Hingga kemarin, warga terus resah karena kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka bahkan nekat menyandera lima unit mobil tangki air milik Palyja. Amarah mereka sudah tak terbendung karena sudah sebulan lamanya pasokan air besih mati. Juju mengaku kelabakan mendapatkan air bersih. Air pikulan yang dibeli warga harganya melejit tinggi.

Satu jeriken air PAM eceran dibelinya seharga Rp. 10.000. Padahal dalam sehari Juju butuh enam jeriken untuk keperluan air bersih di rumahnya.

“Mahal banget kalau beli air eceran, pakai air tanah juga rasanya asin, gatal-gatal ke badan,” tuturnya dengan wajah kesal.

“Ngambil air buat minum, mandi, dan lain - lain. Semoga pihak Palyja cepat- cepat memperbaiki pasokan air di tempat ini. Tadi warga sudah damai, katanya Palyja janji untuk segera memperbaiki,” kata Ahmad Sarifudin (31), warga lainnya menimpali ucapan Juju.

Menurut Ahmad baru kali ini warga benar-benar merasakan kesulitan air bersih. Biasanya tiga hari tidak mendapat pasokan air bersih. Tapi kali ini bisa sampai 1 bulan.

“Warga di sini kalau enggak ada air bersih ya pakai air tanah. Tapi kualitasnya enggak bagus. Mau nggak mau ya beli air PAM eceran,” tuturnya.

Menolak bayar

Lia (28) warga sekitar yang merupakan pelanggan Palyja mengaku hingga bulan ini memang belum diminta tagihan untuk membayar air.

“Sampai sekarang belum ditagih, biasanya tiap bulan ada orang Palyja yang ke rumah untuk menagih bayaran. Kalau diminta bayar juga saya nggak mau, air saja mati selama sebulan. Kalau bulan kemarin bayarnya sampai Rp. 200.000,” ujar Lia. (m3)

Editor: Suprapto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved