Sampah dan Lumpur Penuhi PHB Tegal Amba, 25 Tahun

Tak hanya sampah, air pun nampak tidak mengalir dan mengendap menjadi sedimen (lumpur) di saluran, yang belum pernah dikeruk, selama 25 tahun.

Editor: Gede Moenanto
Warta Kota/Bintang Pradewo
Ilustrasi. Penuh lumpur dan sampah. 

WARTA KOTA, DUREN SAWIT -- Bau busuk sampah menyengat di hidung serta pemandangan tak sedap dipandang sangat terasa ketika berdiri di sekitar Saluran Penghubung (PHB) Tegal Amba, Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (20/09/2015).

Tak ayal, kondisi saluran yang terbilang memprihatinkan ini menjadi keluhan warga sekitar selama puluhan tahun.

Pantauan Warta Kota, air di saluran PHB tersebut hitam pekat dan mengeluarkan bau busuk menusuk hidung.

Tak luput, kepala pun turut menjadi pening kala menghirup bau busuk yang timbul baik di bibir saluran, atau di saluran itu sendiri.

Terlihat sampah-sampah plastik, baik organik dan non organik berserakan dan bercampur dengan sampah-sampah lainnya, di saluran yang melintas di tiga kelurahan itu.

Tak hanya sampah, air pun nampak tidak mengalir dan mengendap menjadi sedimen (lumpur) di saluran tersebut, yang belum pernah dikeruk, selama 25 tahun.

Beberapa warga pun menuturkan keluhannya terkait kondisi saluran air yang memiliki panjang dua kilometer.

Tak berfungsinya saluran yang melintas dari Kelurahan Duren Sawit, Klender, Pondok Bambu, hingga ke Kanal Banjir Timur (KBT), membuat pemukiman warga kerap digenangi air sampah yang meluber apabila masuk di musim penghujan.

"Saya kira ini saluran bentuknya sudah begini adanya alias ya dibiarkan saja tak berfungsi sama warga. Kalau dilihat kondisinya saja sudah tak layak dibilang saluran. Bau busuk, sampah di mana-mana, warganya juga buangnya ke saluran itu. Kalau hujan, air saluran meluber, sampai gatal-gatal di kaki karena kena air itu. Diperkirakan tidak pernah dibersihkan selama puluhan tahun," terang Joko (45) warga di Kelurahan Duren Sawit.

Hal yang sama diucapkan Warmo (33), warga di Kelurahan Duren Sawit.

Rumahnya yang tak jauh dari saluran, mengaku terganggu adanya bau busuk menyengat setiap pagi dari saluran itu.

"Akibat tertutup sampah serta lumpur, saluran PHB-nya ya mampet alias gak berfungsi lagi. Alhasil, warga yang melihat itu udah gak layak, dijadikan saja tempat pembuangan. Susah dikasih tahu warganya. Akibatnya saya juga terganggu karena bau busuknya. Toh dibiarin begitu saja," katanya.

Sementara itu, Camat Duren Sawit, Abu Bakar mengaku pihak Pemerintah Kota Jakarta Timur langsung menindaklanjuti adanya laporan warga mengenai saluran itu.

Dengan mengerahkan 200 petugas gabungan, pihaknya langsung menggelar kerja bakti untuk mengembalikan fungsi saluran itu seperti semula.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved