Banjir Wawancara dan jadi Terkenal, Trauma Ahmed Belum Sembuh

Meski sudah bisa tersenyum, trauma besar dialami oleh Ahmed akibat kekerasan dan Islamophobia, yang dialaminya masih belum hilang, kasihan.

Editor: Gede Moenanto
Aljazeera
Ahmed mengalami trauma berkepanjangan dampak Islamophobia di Amerika Serikat. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Sejumlah kalangan di dunia terbuka dengan kasus Ahmed Mohamed, yang menjadi korban diskriminasi di United States (US).

Selain dilaporkan sebagai terduga teroris, bocah 14 tahun itu langsung diborgol dan diinterogasi selama tiga hari, tapi akhirnya dibebaskan.

Masalah itu di antaranya terjadi akibat adanya Islamophobia, sehingga orang seperti Ahmed dicurigai, bahkan ditangkap seperti penjahat.

Bocah yang masih 14 tahun itu langsung diborgol begitu saja oleh polisi dan diperlakukan secara tidak manusiawi.

Namun, tindakan berlebihan yang dialami Ahmed kemudian membuka mata dunia.

Hal serupa pernah dilakukan dalam solidaritas terhadap muslimah yang memakai jilbab, saat menggunakan transportasi publik.

Tadinya, saking takutnya, wanita berjilbab terpaksa membuka jilbab mereka saat menggunakan kendaraan umum.

Akhirnya, warga yang mengetahui sudah terjadi ketidakadilan malah bersimpati, mereka melakukan perlidungan dan menggunakan tanda pagar (tagar) i'll ride with you (#I'llRideWithYou), yang mendunia dan warga sama-sama melindungi komunitas Muslim.

Karena itu, @mehdirhasan melakukan wawancara khusus dengan Ahmed atau dikenal sebagai @IStandWithAhmed di Twitter, yang dilakukan di televisi Aljazera.

Mereka secara khusus membahas Islamophobia di US.

Meski sudah bisa tersenyum, trauma besar dialami oleh Ahmed, simpati dunia dengan menyuarakan ketidakadilan melalui media sosial tidak sepenuhnya menghapus luka dan trauma akibat kekerasan yang dialami oleh Ahmed.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved