Berubah Fungsi, Puluhan Kios Pedagang Binaan Akan Dibongkar

Dinilai melanggar kerjasama dan tata kota, puluhan kios pedagang binaan Sudin Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jakarta Pusat akan dibongkar.

Berubah Fungsi, Puluhan Kios Pedagang Binaan Akan Dibongkar
Warta Kota/Dwi Rizki
Sosialisasi terhadap sebanyak 61 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di JP 41 dan JP 42 Cempaka Putih di Kantor Kecamatan Cempaka Putih, Senin (14/9/2015). 

WARTA KOTA, CEMPAKA PUTIH - Dinilai melanggar kerjasama dan tata kota, puluhan kios pedagang binaan Sudin Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Jakarta Pusat dalam waktu dekat akan dibongkar petugas.

Pasalnya, selain telah berubah bentuk, kios permanen yang berdiri di atas saluran air itu menyulitkan petugas melakukan perawatan.

Sejalan dengan rencana tersebut, pihak Pemkot Jakarta Pusat yang diwakilkan oleh Asisten Perekonomian dan Adminstrasi Jakarta Pusat, Sulastri Gultom serta Kasudin KUKM Jakarta Pusat, Bangun Richard kembali melakukan sosialisasi terhadap sebanyak 61 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di JP 41 dan JP 42 Cempaka Putih di Kantor Kecamatan Cempaka Putih, Senin (14/9/2015).

Dalam pertemuan perdana tersebut, Sulastri menyampaikan empat poin kesepakatan kepada para pedagang JP 41 yang berlokasi di Jalan Cempaka Putih Tengah 30 dan pedagang JP 42 di Jalan Cempaka Putih Tengah 1, di antaranya para pedagang harus menyetujui penataan kios, membongkar kios sendiri dan tidak diperbolehkan berjualan selama proses revitalisasi saluran air berlangsung.

"Pembongkaran harus dilakukan pedagang kurang dari tanggal 1 Oktober 2015, kalau tidak kami akan lakukan penertiban. Satu hal lainnya, setelah saluran air selesai dibangun, pedagang tidak diperbolehkan untuk membangun kios permanen kembali, berjualan cukup dengan menggunakan tenda sendiri," jelasnya.

Ditemui bersamaan, Kasudin KUKM Jakarta Pusat, Bangun Richard menambahkan jika keputusan pembongkaran tidak hanya sebatas revitalisasi saluran air, penertiban juga didasarkan pada kondisi kedua lokasi yang kini sudah menyimpang dari keperuntukan.

Karena, seperti diketahui, jika pada awalnya kedua JP tersebut hanya dikhususkan bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) Kuliner.

Namun seiring perkembangan, para pedagang memperjualbelikan kios dan melakukan perubahan bentuk bangunan kepada pedagang lain.

“Banyak jenis dagangannya, misalnya ada yang membuka usaha fotocopy, rental komputer, kursus stir mobil, warung kelontong, menjual ATK, percetakan atau sablon sampai ada yang dijadikan tempat tinggal. Tentunya ini sudah menyimpang dari konsep awal dan kita akan kembalikan seperti semula,” tegasnya.

Terlebih, lanjutnya, keberadaan kios tersebut pun memicu permasalahan lainnya, seperti menjamurnya parkir liar, kemacetan lalulintas, sampah hingga penyumbatan saluran air yang menyebabkan timbulnya genangan saat musim hujan.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved