Kamis, 23 April 2026

Properti Baru Bermunculan di Sisi Tol Cijago

Seiring bakal hadirnya Tol Cijago dan Tol Desari, para investor properti pun saling berebut lahan.

WARTA KOTA, DEPOK - Seiring bakal hadirnya Tol Cijago dan Tol Desari, para investor properti pun saling berebut lahan.

Hal itu terbukti dengan begitu bergairahnya pembangunan properti di wilayah Depok, khususnya yang berdekatan dengan akses tol.

Bangunan itu hadir antara lain dalam bentuk hunian vertikal (apartemen), hotel, mal, maupun perkantoran.

Yang terbaru, akan segera hadir sebuah superblok di Jalan Raya Juanda, yang bersisian langsung dengan ruas Tol Cijago.

Superblok yang diberi nama Pesona Square itu berdiri di atas lahan seluas empat hektar.

Harga perdana unit apartemen ditawarkan Rp 400 jutaan dengan angsuran sekitar Rp 3 juta per bulan.

Nantinya, Pesona Square Depok akan terhubung langsung dengan Mall Terrace Food Garden dan Outdoor Dinning Area serta terdapat Office Tower.

Pesona Square juga dilengkapi kolam renang dewasa dan anak-anak, sarana olahraga, dan sarana lainnya.

Selain itu, belum lama ini baru saja berdiri Margonda Hotel, yang berada dalam satu kawasan dengan pusat belanja Margo City, yang merupakan ikon baru Kota Depok.

Jarak antara Margo City dengan Tol Cijago hanya sekitar 100 meter saja.

Tak hanya itu, saat ini juga tengah berlangsung proyek pembangunan Apartemen Atlanta, yang berada persis di sebelah RSU Bunda Margonda.

Apartemen ini ditawarkan dengan harga mulai Rp 500 jutaan.

Sejumlah hunian baru tersebut melengkapi beberapa hunian vertikal yang telah hadir di jantung Kota Depok, seperti Apartemen Margonda Residence 1-5, Apartemen Taman Melati, Park View Condominium, Saladdin Square, serta Cinere Bellevue Suites.

Itu semua belum ditambah dengan kehadiran bangunan-bangunan rmah toko (ruko) yang kini berjejer di sekitar Tol Cijago.

Hunian menengah

Bila kawasan sekitar Tol Cijago semarak dengan hadirnya hunian vertikal, hal berbeda tampak di sekitar jalur Tol Desari.

Di sekitar lahan tol ini yang tampak justru adalah landed house, namun kebanyakan untuk kalangan menengah.

Semaraknya hunian baru mulai tampak dari kawasan Limo.

Bukit Mampang Residence
Kawasan Limo, Grogol, Mampang (ketiganya di Depok), dan wilayah sekitarnya diperkirakan bakal menjanjikan.

Kawasan tersebut letaknya cukup dekat dengan jalan tol Desari dan tol Cinere – Jagorawi (Cijago). Tol Cijago seksi I (Jagorawi – Depok) sudah terbangun dan beroperasi.

Saat ini akses dari Jakarta menuju ke beberapa kawasan itu melalui Cinere atau Cilandak-Jl Kahfi-Krukut-Jl Pramuka.

Akses tersebut tidak terlalu lebar, banyak belokan sehingga rawan macet.

Nanti kalau jalan tol Desari selesai dibangun, dari beberapa kawasan tadi ke TB Simatupang hanya butuh waktu kurang dari setengah jam perjalanan.

Waktu tempuhnya sama dengan TB Simatupang menuju Serpong, Tangerang Selatan.

Karena soal akses itu pembangunan perumahan di kawasan Mampang dan Grogol belum sesemarak di Jl Krukut dan Jagakarsa.

Harganya juga relatif lebih murah. Di sini harga rumahnya rata-rata Rp 500-700 jutaan, jauh di bawah harga rumah di Krukut dan Jagakarsa yang mencapai Rp 1-2 miliaran.

Beberapa perumahannya antara lain Bukit Mampang Residence, Golden Cinere Residence, dan Grand Depok Residence.

Bukit Mampang Residence di Jl Rawa Kalong, 5-10 menit dari Jl Pramuka, melansir tipe 36/72 – 54/100 seharga Rp414 – 591 juta. Tipe 45/84 dibandrol Rp495 juta.

Golden Cinere Residence di Jl Raya Krukut harganya berkisar Rp 300 jutaan – satu miliaran.

Perumahan dari Diamond Land Development ini cukup aman karena pintunya gerbangnya otomatis. Di dalam perumahan juga dilengkapi lapangan futsal, kolam anak, lapangan bulu tangkis. Playgroup, TK, dan SD juga dekat.

Sementara Grand Depok Residence di Jl M Zakaria yang termurah Rp486 juta (36/72).

Ada juga tipe 45/72 dan 72/120 masing-masing seharga Rp560 juta dan Rp924 juta. Perumahan dari Riscon Realty ini juga cukup dekat dengan kampus Universitas Indonesia (UI) melalui pintu belakang.

Terpotong-potong

Di sisi lain, pengerjaan konstruksi Tol Cijago Seksi II (Cisalak-Kukusan) hingga kini masih dilakukan.

Berdasarkan pantauan Warta Kota, Jumat (4/9), pekerjaan tampak terpotong-potong. Di beberapa bagian tampak rumah yang masih berdiri di tengah-tengah jalur tol. Misalnya saja di wilayah Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya.

Kepala Pelaksana Proyek Tol Cijago dari Hutama Karya, Muhammad Yusuf, mengatakan, terpotong-potongnya pengerjaan konstruksi disebabkan terkendalanya pembebasan lahan.

Menurut Yusuf, hingga kini masih terdapat sejumlah bidang lahan yang belum bisa dikerjakan karena lahannya belum bebas.

"Masih banyak lahan yang belum bebas. Seperti rencana overpass di tanah Haji Daiman sampai ke Situ Pengarengan, masih terkendala pembebasan lahan. Itu membuat pekerjaan menjadi terpotong-potong," ujar Yusuf kepada Warta Kota, Jumat (4/9).

Selain itu, kendala pembebasan lahan juga masih menjadi masalah di daerah Kemirimuka, dekat Jalan Margonda Raya, kata Yusuf. Kira-kira masih ada lima bidang lagi yang belum bebas.

"Di daerah Kemirimuka yang belum bebas itu lokasi Puskesmas dan bangunan SD," ujarnya.

Sejauh ini, kata Yusuf, pembebasan lahan yang tidak terlalu menemui masalah adalah di wilayah antara Margonda dan Kukusan (Seksi IIB), tepatnya di belakang kampus Universitas Indonesia.

"Di belakang kampus UI pembebasannya relatif selesai, karena itu tanahnya UI. Itu diperkirakan on schedule, banyak lahan bebasnya karena tanahnya milik UI," jelasnya.

Yusuf menyimpulkan, pembebasan lahan untuk tol Cijago Seksi II belum 100 persen.

Saat ini, pembebasan lahan telah di bawah kendali BPN, dengan tetap beranggotakan tim dari pihak terkait, seperti dari Pemkot Depok, dari kecamatan, dan lain-lain. Dengan demikian, dia berharap pembebasan lahan bisa cepat.

"Kita mengharapkan pengadaan lahan untuk Tol Cijago Seksi II (Cisalak sampai Kukusan) ini selesai paling lambat Desember 2015," kata Yusuf.

Yusuf menerangkan, saat ini pihaknya sedang mengebut sejumlah pekerjaan. Antara lain pembangunan underpass Margonda, pembuatan jembatan di atas Kali Ciliwung, pembuatan jembatan di atas Situ Pengarengan, dan sodetan Kali Sugutamu.

"Underpass Margonda itu sekarang dalam proses pengeboran, cuma terkendala oleh adanya pipa Pertagas (PT Pertamina Gas--Red) yang harus direlokasi. Relokasi pipa gas kira-kira minggu depan," ujar Yusuf.

Bila relokasi pipa gas sudah selesai, kata Yusuf, pihaknya menargetkan pembangunan underpass Margonda itu akan selesai pada Oktober mendatang.

"Kan di situ dibagi empat, yang tiga sudah selesai, tinggal satu jalur lagi dari arah Depok ke Jakarta," katanya.

Untuk diketahui, pembangunan Jalan Tol Cijago yang dioperasikan PT Translingkar Kita Jaya ini dilakukan secara bertahap dalam tiga seksi.

Seksi I sepanjang 3,70 kilometer sudah dioperasikan sejak Januari 2012. Sedangkan Seksi II menghubungkan Jalan Raya Bogor/Cisalak dengan Kukusan sepanjang 5,50 kilometer.

Sedangkan untuk Seksi III membentang dari Kukusan sampai Cinere hingga 5,44 kilometer.

Total investasi yang dikeluarkan untuk membangun tol sepanjang 14,6 kilometer ini adalah Rp 2,4 triliun.

Jika pembangunan seluruh ruas Tol Cijago tuntas, maka ujung pintu tol Cinere akan menjadi titik untuk integrasi dengan Jalan Tol Cinere-Serpong.

Sementara itu, belum lama ini Direktur Utama PT Citra Waspphutowa Tri Agus Priyanto, selaku pemegang konsesi proyek Tol Desari, juga mengatakan bahwa pihaknya tetap melakukan pekerjaan fisik konstruksi meski pembebasan lahan belum 100 persen.

Dia berharap akhir tahun ini urusan pembebasan tanah sudah selesai.

Untuk diketahui, saat ini proses pembebasan lahan berbagai proyek infrastruktur yang menyangkut kepentingan umum seperti Jalan Tol, Jalan Nasional, Perumahan Rakyat hingga Bendungan dan Pembangkit Listrik, diambilalih oleh pemerintah pusat melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Hal ini dilakuan sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 30 tahun 2015 sebagai aturan turunan Undang-undang Nomor 2 tahun 2012 tentang penyediaan lahan untuk program pemerintah yang menyangkut kepentingan umum. Lewat aturan baru tersebut ada kepastian bahwa proses pembebasan lahan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari.

Proyek Tol Desari memiliki nilai total investasi Rp 4,767 triliun. Pembangunannya dibagi dalam dua seksi.

Pembangunan seksi I yaitu ruas Antasari-Sawangan sepanjang 12 Km pembebasan lahannya baru 70 persen, mencakup seksi IA sepanjang 6,85 Km (Antasari-Krukut) yang pembebasan lahannya sudah 90 persen, seksi I B sepanjang 6,3 Km (Krukut-Sawangan). Seksi I ditargetkan selesai Juli 2016.

Kemudian Seksi II, ruas Sawangan-Bojonggede sepanjang 9,5 Km. Rencananya pembangunan fisiknya direncanakan pada awal 2023 dan diharapkan mulai beroperasi pada 2024.

Untuk seksi I, wilayah kelurahan yang akan dilewati antara lain Cilandak Timur, Cilandak Barat, Pondok Labu, Ciganjur dan Cipedak di wilayah administratif Jakarta Selatan. Serta kelurahan Pangkalan Jati Baru, Gandul, Krukut, Grogol dan Rangkap Jaya di wilayah Kota Depok.

Untuk seksi II, setelah dari Sawangan, jalur tol akan mengarah ke kawasan Bojong Gede, Bogor melewati kelurahan Rangkap Jaya Baru, Cipayung dan Cipayung Jaya di Kota Depok, serta Kelurahan Pabuaran dan Susukan di wilayah Kabupaten Bogor. (gps)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved