Minggu, 26 April 2026

Anak Kali Ciliwung di Kawasan Sawah Besar Menjadi Tempat Sampah

Ancaman penyakit pun meneror warga di kawasan padat penduduk tersebut.

Warta Kota/Dwi Rizki
Tidak terjamah dan menahun, kondisi sampah di sepanjang Anak Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terpanjang saat ini. 

WARTA KOTA, SAWAHBESAR - Tidak terjamah dan menahun, kondisi sampah di sepanjang Anak Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terpanjang saat ini. Bukan hanya menyebabkan pemandangan kumuh dan lingkungan berbau tak sedap, ancaman penyakit pun meneror warga di kawasan padat penduduk tersebut.

Mirisnya kondisi tersebut seperti halnya yang terlihat saat Warta Kota meninjau lokasi bersama Wakil Walikota Jakarta Pusat, Arifin didampingi oleh Kasudin Tata Air, Herning Wahyuningsih pada Jumat (21/8). Kali yang membelah sembilan RW di Kelurahan Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat itu terlihat dangkal penuh dengan beragam sampah rumah tangga.

Beraneka macam sampah yang bercampur dengan endapan lumpur hitam terlihat berbau busuk dan menjadikan tersebar mulai dari Rumah Sakit Husada hingga kolong jembatan rel kereta api, Taman Sari. Kondisi tersebut pun diperparah dengan banyaknya warga yang tidak memiliki septiktank dan membuang kotoran langsung ke dalam kali.

Bukan tanpa sebab, Siti Rokayah (50) salah seorang warga menilai jika tumpukan sampah pada kali sepanjang dua kilometer itu memang merupakan gambaran perilaku warga yang tidak perduli lingkungan. Terlebih, lanjutnya, pihak Sudin Kebersihan Jakarta Pusat sudah lama acuh dan tidak melakukan pembersihan selama dua tahun belakangan.

“Kalau dihitung-hitung mungkin sudah ada hampir dua tahun kali nggak dibersihin, padahal sampahnya sudah begitu (menggunung-red), ngehambat aliran air kali juga,” ujarnya menunjuk kali penuh sampah.

Ditemui bersamaan, Munir (55) tetangga Siti justru menyimpulkan jika sampah yang mengisi seluruh badan kali tersebut merupakan hasil pembuangan warga dari wilayah Hulu. Sebab, permukiman pada wilayah Hulu Anak Kali Ciliwung tidak memiliki TPS, sehingga warga pun membuang sampah ke dalam kali setiap harinya.

“Ya pastinya salah kalau buang sampah ke kali, tapi mau gimana lagi, warga begitu juga kan ada sebabnya, karena aku ya memang setahu saya juga nggak ada tempat pembuangan sampah di lingkungannya," jelasnya.

Mengetahui kondisi tersebut, Wakil Walikota Jakarta Pusat, Arifin pun terkejut seribu bahasa. Dirinya hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Anak Kali Ciliwung penuh sampah. Bukan hanya itu, rasa kecewanya pun muncul saat menyaksikan puluhan bangunan permanen berdiri liar mengisi bantaran kali sepanjang dua kilometer.

"Ternyata masih kita dapatkan beberapa saluran air yang penuh dengan sampah dan terjadi pendangkalan. Kalau airnya hanya hitam dan tidak ada sampah, itu masih mending. Tapi ini sudah penuh sampah dan dangkal, ini sudah kayak bukan Jakarta lagi," ungkap Arifin bernada tinggi.

Terkait hal tersebut, dirinya mengatakan jika pihaknya akan melakukan penertiban atas seluruh bangunan liar yang berdiri di sepanjang bibir kali. Apalagi, diketahui, beberapa bangunan ditemukan menjorok jangka memotong aliran kali.

"Seluruh bangunan liar di bantaran Anak Kali Ciliwung ini harus ditertibkan. Terutama yang posisinya persis di pinggir kali dan di tengah kali," tutupnya singkat menggelengkan kepala.

Ditemui bersamaan, Kasudin Tata Air Jakarta Pusat, Herning Wahyuningsih mengatakan, dirinya sangat mendukung adanya penertiban bangunan liar. Sebab, alasan mengapa normalisasi kali belum dilakukan lantaran terbentur dari banyaknya bangunan liar.

“Sekarang bagaimana mau melakukan normalisasi, bantaran kali penuh dengan bangunan. Kalau bangunan liar itu dibongkar baru kita bisa lakukan normalisasi. Logikanya, kalau alat berat turun, sampah dikeruk terus buangnya lewat mana,” jelasnya.

Seiring dengan hal tersebut, pihak telah menyusun rencana normalisasi, pengerukan sampah serta sedimentasi kali akan dilakukan dengan alat berat. Selanjutnya, perbaikan turap akan dilakukan bila ditemui ada kerusakan akibat pembongkaran bangunan liar milik warga.

"Normalisasi akan kami lakukan secepatnya, kami akan operasikan becho amphibi untuk mengeruk sedimentasi kali dan sampah yang ada. Tapi yang jelas bangunan liar harus ditertibkan terlebih dahulu, supaya alat berat bisa masuk," tutupnya.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Kasudin Kebersihan Jakarta Pusat, Marsigit menolak jika pihaknya melakukan pembayaran atas melimpahnya sampah di sepanjang Anak Kali Ciliwung saat ini. Sebab, kewenangan dalam pembersihan Kali, khususnya Anak Kali Ciliwung merupakan milik Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

“Dinas yang memiliki kewenangan itu, kalau kita hanya mengurusi saluran kecil atau PHB (Penghubung-red),” jelasnya singkat.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved