Bocah SD Disodomi

Putusan Bebas Guru JIS Dinilai Beralasan

Kasus kekerasan seksual ini patut diduga tidak terjadi. Namun ada dugaan anak-anak itu mengalami kekerasan psikis

Penulis: | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Hotman Paris Hutapea saat menyambut bebas dua orang guru Jakarta International School (JIS), Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (14/8). 

WARTA KOTA, SEMANGGI - Putusan Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta yang telah membebaskan guru Jakarta Intercultural School (JIS) dari dakwaan kasus kekerasan seksual di sekolah tersebut dinilai beralasan.

Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan, kasus dugaan pelecehan di JIS memang cukup rumit.

Menurutnya, awalnya dirinya cenderung percaya bahwa sudah terjadi kekerasan seksual terhadap tiga anak hingga melaporkan dua guru JIS Ferdinant Tjiong dan Neil Bantleman.

"Namun setelah saya berkesempatan melihat hasil visum dan saya kaitkan dengan nalar keilmuan, saya menjadi yakin bahwa sodomi tidak terjadi. Kendati begitu, saya memahami kompleksitas kasus ini," kata Reza saat dihubungi di Jakarta, Selasa (18/8).

Menurutnya, harus dilakukan audit dari sisi kependidikan dan investigasi hukum hingga tuntas.

Reza menuturkan, kasus kekerasan seksual ini patut diduga tidak terjadi. Namun ada dugaan anak-anak itu mengalami kekerasan psikis.

Reza mengaku pernah melakukan pemeriksaan terhadap kondisi anak-anak yang diduga mengalami kasus kekerasan seksual tersebut.

Alhasil, kasus sodomi yang dituduhkan oleh dua guru JIS yakni tidak terjadi.

"Saya sempat diminta untuk menjadi saksi ahli pada persidangan dua guru JIS ini, tapi saat itu saya berhalangan hadir," ujarnya.

Penjelasan Reza tersebut, sesuai dengan bukti-bukti medis hasil pemeriksaan terhadap tiga siswa yang melaporkan kasus ini ke polisi.

Seperti diketahui, hasil visum dari RSCM, siswa MAK dinyatakan tidak mengalami kekerasan seksual pada lubang pelepasnya.

Sementara hasil pemeriksaan oleh RS KK Women' and Children's Hospital, Singapura, yang melibatkan dokter bedah, dokter anestesi dan dr psikologi menyatakan bahwa, kondisi lubang pelepasan AL normal dan tidak mengalami luka.

Berdasarkan bukti itulah pengadilan Singapura memenangkan gugatan pencemaran nama baik Neil Bantleman, Ferdinant Tjong dan JIS terhadap DR, ibu AL.

Pengadilan memvonis DR untuk membayar ganti kerugian hingga 230 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 2.3 miliar kepada Neil, Ferdi dan JIS karena terbukti menyebarkan berita fitnah dan mencemarkan nama baik ketiga pihak tersebut.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved