Citizen Journalism
Bukti Kemerdekaan Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Sampai-sampai sebuah stasiun televisi swasta nasional harus mendatangkan langsung pengamen sukses yang beruntung tersebut
WARTA KOTA, PALMERAH - Menjelang hari ulang tahun Kemerdekaan NKRI ke-70, ada sebuah berita yang cukup menarik dan menyita perhatian publik.
Mungkin karena dirasa topnews, kisah menarik tersebut perlu diekspos dan diberi ruang selama tiga terbitan berturut-turut di harian Warta Kota di pengujung akhir Juli 2015.
“Kisah pengamen sukses masuk UI,” memang layak diangkat oleh harian Warta Kota karena telah menjadi pembicaraan serius baik di media sosial maupun di media cetak dan elektronik.
Sampai-sampai sebuah stasiun televisi swasta nasional harus mendatangkan langsung pengamen sukses yang beruntung tersebut, Dzulfikar Akbar Cardova (Dodo) secara live dalam kabar berita pagi.
Ia ditemani dua orang sahabat perempuannya, yang juga alumni SMA Master (Masjid Terminal) Depok.
Kedua perempuan hebat ini pun diterima di Fisip UI dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Lewat layar kaca, saya dan tentu saja ribuan pasang mata permisa, ikut menyaksikan dan menyimak bagaimana sosok Dodo yang sederhana, menceritakan kisah perjalanan dan perjuangan hidupnya sampai akhirnya dia diterima di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN 2015).
Dodo dan kedua temannya pun mengucapkan terima kasih kepada Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM FE UI) yang telah menggembleng mereka secara total dengan latihan soal-soal persiapan ujian, sampai akhirnya mereka bertiga diterima di perguruan tinggi negeri.
Dalam wawancara live televisi tersebut Dodo dengan santun meminta kepada Menteri Pendidikan Anies Baswedan agar dicarikan solusinya karena SMA Master akan digusur lantaran menempati lahan yang bukan miliknya.
Sungguh permintaan yang tulus, karena Dodo menyadari masih banyak temannya yang menggantungkan harapan dan juga cita-cita masa depan mereka untuk tetap bersekolah di SMA Master tersebut.
Saya yakin, di sela kesibukannya menteri Anies Baswedan pasti mendengar ungkapan hati anak bangsa yang ingin merubah nasib dan memutus mata rantai kemiskinan dengan kualitas pendidikan.
Pembelajaran dari kisah Dodo dapat kita petik hikmah dalam perenungan arti kemerdekaan pendidikan tanpa diskriminasi dalam perjalanan pendidikan nasional kita.
Pelajaran pertama bahwa hidup penuh perjuangan dan pilihan.
Merubah nasib bukan hanya suatu keharusan, tapi akan menjadi suatu kebutuhan karena pada hakikatnya Allah SWT akan dan pasti merubah nasib kita sejalan dengan kesungguhan kita untuk merubah nasib kita sendiri.
Dengan disiplin, kerja keras, kejujuran dan disertai doa, Dodo dan kedua sahabatnya telah membuktikan hasilnya.
Pembelajaran kedua, tentunya kisah ini telah membuktikan dan menegaskan kembali bahwa kemerdekaan pendidikan di Indonesia telah berjalan sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945 yang menjamin setia warga Negara Indonesia untuk pemperoleh pendidikan yang layak (berkualitas) sesuai dengan minat dan kemampuannya tanpa diskriminasi, tanpa melihat latar belakang agama, suku, gender dan status sosial ekonomi.
Dodo dan dua orang sahabatnya hanya salah satu contoh dan telah merasakan betapa indahnya kemerdekaan pendidikan tanpa diskriminasi di bumi Nusantara.
Kita pun perlu memberikan apresiasi kepada para mentor relawan dari BEM FE UI yang telah berkontribusi aktif dan simultan membina para siswa SMA Master.
Kerja keras Anda telah membuahkan hasil yang mengagumkan dengan mengangkat derajat mereka yang selama ini termarjinalkan karena keterbatasan sosial ekonomi.
Anggaplah kisah sukses Dodo dan dua orang sahabatnya yang diterima di UI dan UNJ sebagai kado istimewa untuk BEM FE UI pada hari kemerdekaan NKRI.
Ahmad Nur Achri,
Pengamat dan Pemerhati Pendidikan dan Sosial
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150729-pengamen-diterima-di-universitas-indonesia_20150729_100027.jpg)