Breaking News:

Ajarkan Seksualitas pada Anak Sejak Dini

Riset menunjukkan 92 persen anak kelas IV hingga kelas VI SD sudah terpapar pornografi lewat situs pornografi, videoklip, buku, film, atau tayangan

Editor: Andy Pribadi
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Pengetahuan tentang seks bisa diberikan orangtua kepada anak-anak sedini mungkin dimulai dari rumah. 

Saat sepi, Ardi kerap ”menangkap” Evelyn dan mengulang perbuatan menyimpang itu.

Setelah Evelyn beranjak dewasa, ia tetap merasa takut dan mual saat melihat Ardi di kejauhan.

Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, Evelyn masih menyimpan kemarahannya.

”Ia membuat seorang bocah memendam ketakutan dan kebingungan yang menyesakkan selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Evelyn tak pernah menceritakan hal itu bukan karena Ardi mengancamnya, tetapi karena tidak ada yang menjelaskan padanya bahwa apa yang dilakukan Ardi itu salah.

Sebaliknya, Evelyn yang masih bocah justru khawatir akan disalahkan kalau ia bercerita pada orangtuanya.

Elly Risman, psikolog yang membangun Yayasan Kita dan Buah Hati, mengatakan, seorang anak perlu merasa aman dengan orangtuanya agar ia berani menyampaikan masalah yang ia alami, termasuk ketika terjadi pelecehan seksual.

Anak juga tak cukup sekadar diberi tahu secara verbal tentang bagaimana ia harus merespons orang yang berperilaku menyimpang. ”Anak butuh diajari dengan role play,” ujar Elly.

Secara lebih mendasar, Elly mengingatkan, anak membutuhkan pendidikan seksualitas, bukan pendidikan seks, sejak dini.

Seks diasosiasikan dengan alat kelamin dan hubungan seksual. Sementara seksualitas mencakup cara berpikir, bereaksi, dan menyikapi berbagai hal yang menyangkut jender.

”Seksualitas juga menyangkut persoalan kepercayaan diri, harga diri, bahkan konsep diri pada anak,” ujar Elly.

Riset Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 2.227 anak pada tahun 2014 di Jabodetabek menunjukkan betapa pendidikan seksualitas pada anak sejak dini sangat penting.

Riset ini menunjukkan 92 persen anak kelas IV hingga kelas VI SD sudah terpapar pornografi lewat situs pornografi, videoklip, buku, film, atau tayangan televisi.

Disayangkan Elly, tidak semua orangtua memahami bahaya yang mengincar anak. Orangtua pun kadang alpa meluangkan waktu.

”Selain itu, tidak semua orangtua punya pengetahuan dan nyali untuk mengajarkan pendidikan seksualitas pada anak,” ujarnya prihatin.

Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved