Pembunuhan
BREAKING NEWS: Ibunda Rian Menangis dan Tak Kuat Jalan
Usai pembacaan surat Yasin, Ibunda Korban, Rukmila yang sejak kemarin tegar, akhirnya runtuh juga melihat jenazah anaknya diangkat.
WARTA KOTA, GARUT - Keluarga korban membaca Surat Yasin bersama-sama sepanjang proses pengangkatan jenazah Hayriantira di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cibunar, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (7/8).
Usai pembacaan surat Yasin, Ibunda Korban, Rukmila yang sejak kemarin tegar, akhirnya runtuh juga melihat jenazah anaknya diangkat.
Lokasi pemakaman Hayriantira ini berada di blok paling belakang di di TPU itu. Tanah tempat pemakaman itu sudah mengering, di sekitarnya ada deretan tanaman singkong dan rerumputan pohon bambu.
Polisi menempatkan dua tenda. Satu tenda persis di lokasi kuburan, lalu satu tenda lagi berjarak tepat di belakangnya. Jaraknya sekitar 5 meter. Keluarga korban berdiri dan duduk di tenda itu.
Rukmila (58) duduk di kursi disamping seorang kerabatnya yang memegang buku surat Yasin dan membacakannya. Sementara Rukmila memegang tasbih di sebelahnya. Keduanya memakai masker.
Sementara di belakang mereka, ada ayahnya, Adi Santoso (65), anak ketiga mereka, Agung Ari Wibowo (29) dan beberapa kerabat lain.
Selama proses penggalian, mereka sama-sama mengucapkan Surat Yasin. Adi memegang istrinya. Adi tak menangis dan Rukmila pun tidak. Dia membacakan surat Yasin dengan jelas. Agung, adik korban juga tak menangis selama proses penggalian kubur. Dia ikut membaca surat Yasin dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sesekali Dia menyentuh pundak ibunya dan meremasnya.
Kemudian seorang keponakan Rukmila terus memegang kuat pundak Rukmila. Beberapa anak kecil di keluarga itu kelihatan cengengesan saat proses pembongkaran kuburan dan mencolek-colek Rukmila juga lekas terkena marah dan disuruh diam. "Ini sedang ngaji ini," kata kerabatnya yang lain. Anak kecil itu pun berhenti bercanda.
Namun begitu jenazah diangkat dan dimasukkan ke peti, tangisan itu akhirnya pecah juga.
Rukmila lekas memeluk perempuan yang sedari tadi duduk di sebelahnya. Dia menangis di pelukan perempuan itu, lalu adik korban jadi menangis, tapi ayah korban tetap tegar. Raut mukanya tak berubah.
"Sudah harus ikhlas, Dia (korban) sudah diberi keindahan," ucap perempuan itu sementara Rukmila terisak.
Kemudian seorang kerabat lainnya yang berbadan tambun datang. "Ayo sudah dibawa saja ke mobil Ibu," kata Dia.
Rukmila pun dipapah beberapa orang. Dia berjalan tersendat-sendat menuju mobil. Kakinya kelihatan lemas dan terlalu banyak wartawan mengerubutinya.
Dia kemudian dinaikan ke sebuah mobil sedan hitam. Rukmila duduk di kursi belakang. Lalu keponakannya yang kemarin sempat mengamuk saat rekonstruksi duduk di kursi depan.
Sempat terjadi kebingungan siapa yang mau duduk di sebelah sopir. Keluarga kelihatan ingin seseorang yang tak menangis duduk di kursi depan. Tapi akhirnya adik korban yang memilih duduk di kursi sebelah sopir.
"Elu kuat aa (kak)," kata seorang lelaki muda ke Agung. Agung mengatakan dia kuat dengan mata yang masih basah.
Sementara Agung masuk ke mobil, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti menghampiri ibu korban yang sudah di mobil.
Dengan tetap memakai kacamata, Krishna pun berujar. "Ibu yang kuat. Kami akan selesaikan semua prosesnya," kata Krishna.
Sementara Ayah korban ikut di mobil Jenazah. Dia tak menangis sama sekali. Dia duduk di depan. Tak ada satupun air mata di matanya.
Dia melayani semua pertanyaan media. Menjawabnya dengan lugas, dan sama sekali tak menolak menjawab.
"Kami sangat siap dengan hari ini (pengangkatan jenazah). Jenazahnya ditemukan saja kami sekeluarga sudah amat bersyukur," kata Adi-ayah korban.
Adi menyebut jenazah anaknya akan segera dimakamkan begitu tiba di Brebes, kampung halaman mereka. Liang Lahat sudah disiapkan di TPU Banjarlor di Brebes, Jawa Tengah. Dan adan sederet sepupu, teman kecil korban dan kerabat mereka disana yang sudah menunggu.
Sesaat sebelum mobil jenazah pergi, Ayah korban mengucapkan terima kasih ke semua awak media yang dari tadi mengerubutinya. Beberapa awak media membalas 'yang kuat ya pak'. Dia pun masih sempat melempar senyum. Sirine ambulance berbunyi. Mobil pergi.(ote)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150807pengangkatan-jenazah-ibunda-korban-menangis-dan-tak-kuat-jalan_20150807_133338.jpg)