Breaking News:

Pemukiman PHL Kebersihan di Kolong Jembatan Setiabudi Segera Ditertibkan

Perkampungan Kolong Jembatan' itu mulai ada sejak tahun 2002.

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw | Editor:
Warta Kota/Theo Yonathan Simon Laturiuw
Para PHL Penyapu Jalan sedang duduk-duduk sambil ngobrol di pemukiman kolong jembatan 66 tempat mereka tinggal selama 13 tahun, Selasa (4/8/2015). Dalam waktu 11 hari ke depan, Pemprov Jakarta Selatan akan membongkar tempat ini. 
WARTA KOTA, SETIABUDI - Tak ada yang terlalu bersemangat di 'perkampungan kolong jembatan' para penyapu jalan Jakarta, Selasa (4/8/2015).
Dalam 11 hari ke depan, perkampungan itu tak akan ada lagi. Pemerintah Provinsi Jakarta Selatan bakal membongkarnya.
Pagi tadi ada Robinur (38), pengawas Kebersihan Kecamatan Setiabudi yang setiap hari bertugas mengawas di Jalan Sultan Agung sedang bingung mencari kontrakan. Apalagi gajinya belum turun. 
"Pusing juga ini mau cari kontrakan dimana," kata Robinur kepada Wartakotalive.com, Selasa (4/8/2015). Apalagi, kata Dia, Dia baru merayakan Lebaran dan uangnya banyak habis. 
Perkampungan ini berada di kolong jembatan 66 di Jakarta Selatan. Jembatan ini menghubungkan Jalan Rasuna Said dan kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Tadinya disana ada sekitar 77 Kepala Keluarga (KK). 20 diantaranya pekerja harian lepas (PHL) Seksi Kebersihan Kecamatan Setiabudi dan Pertemanan. 
Usup Bin Syitap (65), penghuni tertua sekaligus PHL penyapu jalan paling senior disana, menceritakan,
'Perkampungan Kolong Jembatan' itu mulai ada sejak tahun 2002. 
Tadinya, kata Usup, tempat itu merupakan Kantor Seksi Kebersihan Kecamatan Setiabudi sejak tahun 1981.
Namun di tahun 2002 kantor Itu tersapu banjir.
Tembok-tembok jebol, seluruh barang kantor tenggelam di Waduk Setiabudi yang letaknya bersebelahan. 
"Sejak itu tak dipakai lagi tempat ini. Lalu kemudian dijadikan tempat tinggal kami-kami ini, PHL penyapu jalan dan taman," kata Usup kepada Wartakotalive.com, siang ini. 
Menurut Usup, sebelum benar-benar jadi pemukiman, sebenarnya para PHL Kebersihan sudah kerap tidur disitu sejak tahun 1981 dan bertambah ramai di tahun 1991 dan seterusnya.
 
 
 
 
"Masih pada bujang kan tahun-tahun segitu. Jadi tidurnya ngampar saja dimana-mana," kata Usup, termasuk dirinya. 

Tapi begitu berubah jadi 'perkampungan kolong jembatan', para PHL ini mulai membawa anak dan istrinya.
Warga sekitar pun mulai menyebut mereka 'orang kolong'. 
Seperti Robinur (38) yang kedua anaknya sejak lahir tinggal di bawah kolong jembatan itu.
Begitu juga Usup, seluruh anaknya baik dari istri pertama dan kedua, tinggal di kolong jembatan itu.
Dia total punya 6 anak dari 2 istri.
Kini Dia tinggal bersama istri kedua dan 2 anaknya yang masih kecil di kolong jembatan itu. 
Semenjak para PHL membawa istrinya kesitu, mereka menyekat setiap bagian kolong jembatan menjadi tempat tinggal yang kecil. Menambahi triplek-triplek, tangga dan kayu-kayu balok.
Ada 2 tingkat bangunan disana.
Mereka yang berada di lantai dasar beruntung bisa memiliki semacam teras kecil di depan rumah sempit mereka.
Namun yang berada di lantai atas, mereka perlu membuat tangga keci‎l dan hanya memiliki ruangan lebih sempit dan pengap.
Serta lebih dekat dengan getaran apabila truk lewat. 
Kini setelah 13 tahun berdiri, bentuk tempat itu seperti perkampungan kecil.
Ada 3 akses masuk kesana. Dua akses melalui pinggir jembatan.
Satu akses lainnya melalui jalan kecil di samping Waduk Setiabudi.
Di dalamnya jalan telah berubah jadi gang-gang kecil.
Setiap Rumah juga telah memiliki televisi, exhaust untuk mengusir udara panas, tempat tidur tingkat, mesin cuci, dan lemari-lemari besar untuk menyimpan tumpukan buku. 
Warga juga punya tempat parkir motor disebuah beton besar yang menyangga jembatan.
Perlu membungkukkan tubuh apabila hendak memarkir disitu.
Kemudian, beberapa penghuni punya dapurnya sendiri.
Tapi ada pula yang terpaksa memakai dapur bersama. 
Kemudian ada 6 kamar mandi disana yang setiap hari dipakai bergantian oleh tiap penghuni.
Tempat ini sudah mapan untuk sebuah pemukiman. 
"Setiap bulan kami patungan membayar listrik dan air," kata Usup. Kini semuanya hanya pasrah menanti pembongkaran.
Saat Wartakotalive.com datang kesana, beberapa rumah kecil telah kosong.
Penghuninya sudah pergi mencari kontrakan. Tapi ada pula yang memilih tinggal sampai batas akhir.
Pada intinya mereka pasrah, namun sudah mulai memasukkan barang mereka ke kardus-kardus besar.

Sementara itu, Camat Setiabudi, Fredy Setiawan, mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat perintah pengosongan 7X24 jam sejak Senin (3/8/2015). Selanjutnya akan dikirim surat yang sama untuk 3X24.

"Setelah itu baru kami kirim surat yang sama untuk 1X24 jam, baru kami bongkar," kata Fredy ketika dihubungi Wartakotalive.com, siang ini

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved