Minggu, 12 April 2026

Musim Kemarau

El Nino Ancam Kekeringan di Beberapa Wilayah Indonesia

Pada tahun 2015 ini, fenomena kekeringan memang akan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, kata Kepala BMKG, Andi Eka Sakya

Penulis: Budi Sam Law Malau |
Kompas.com
Sawah kering. 

WARTA KOTA, DEPOK - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya fenomena El Nino mengakibatkan musim kemarau di Indonesa berpotensi mengakibatkan kekeringan di beberapa wilayah.

Selain itu, El Nino juga membuat musim kemarau terjadi lebih panjang di banding biasanya.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menjelaskan di beberapa wilayah kekeringan sudah terjadi, dimana hujan tidak turun sama sekali hampir selama satu bulan lebih.

"Beberapa wilayah di Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung, Bali, NTB dan NTT telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut sangat panjang. Jika dipantau dari Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan, wilayah-wilayah tersebut sudah kering sejak Mei 2015 lalu," kata Andi, Kamis (30/7).

Wilayah-wilayah itu kata Andi masih berpotensi mengalami kekeringan dalam beberapa waktu ke depan.

"Pada tahun 2015 ini, fenomena kekeringan memang akan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia," katanya.

Menurutnya wilayah Indonesia di sebelah selatan katulistiwa adalah wilayah paling terdampak oleh fenomena El Nino yang telah mencapai level moderate,

Diprediksi, kata Andi, kekeringan dan minimnya hujan akan terjadi dan makin menguat mulai Agustus sampai dengan Desember 2015.

"Daerah terkena dampak El Nino dan kekeringan terus terjadi akan meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan," prediksinya.

Selain itu, Andi juga memprediksi panjang musim kemarau dibeberapa wilayah di Indonesia yang lebih lama dibanding biasanya.

"NTB dan NTT telah memasuki musim kemarau sejak bulan Maret 2015 dan diprediksi akan berlangsung sampai dengan November 2015," kata dia.

Biasanya kemarau di NTB dan NTT berkakhir Juli.

Sementara untuk wilayah Jawa yang sudah memasuki musim kemarau sejak bulan April 2015, diprediksi akan berlangsung hingga Oktober 2015. Biasanya kemarau di pulau Jawa juga berakhir sekitar Agustus.

Karenanya, kata Andi, hal ini sangat mungkin berdampak pada sektor pertanian, dan dapat menyebabkan panjangnya masa paceklik atau gagal panen.

"Pada sektor kehutanan bisa berdampak pada kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Sementara pada sektor kesehatan akan berdampak pada kurangnya ketersediaan air bersih dan meningkatnya demam berdarah. Namun demikian, kata Andi, tidak semua fenomena El-Nino berdampak negatif.

Ia mencontohkan Andi pada sektor kelautan, fenomena ini dapat meningkatkan tangkapan ikan dan potensi garam.(bum)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved