Breaking News:

Sabu Kristal 11 kg Dikemas di Dalam Alat Pijat Refleksi

Sabu golongan I yang dikemas di dalam casing alat refleksi kaki elektrik, seberat 11 kg itu, langsung disita petugas

Panji Baskhara Ramadhan
Sat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Utara berhasil mengungkap peredaran sabu seberat 11 kilogram senilai Rp 16,5 milyar jaringan Internasional, Guangzhou - Jakarta - Makassar, di Polres Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (21/07). Sabu jenis kristal tersebut dikemas di dalam bungkus alat pijat kaki terapi. 

WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK - Azis (35), Darman (24), Hengky alias Aldi (40), warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diciduk Sat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Utara, lantaran terlibat peredaran narkotika jenis sabu kristal, jaringan internasional Guangzhou - Jakarta - Makassar, Selasa (21/07) dini hari tadi.

Sabu golongan I yang dikemas di dalam casing (body) alat refleksi kaki elektrik dan seberat 11 kilogram itu, langsung disita petugas lantaran hendak akan dikirim ke Makassar.

"Ada delivery (kiriman) Barang (paket) dari Guangzhou dan tiba di Jakarta pada 16 Juni 2015. Barang itu yang tiba di lokasi Ekspedisi di Kawasan Tanjung Priok, dan diperuntukkan untuk pelaku bernama Asri Aziz selaku kurir," jelas Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Susetio Cahyadi, di Lobi Polres Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Lanjut Susetio, saat dilakukan penyitaan oleh petugas, barang haram yang senilai Rp 16,5 milyar tersebut sudah dikemas dalam kemasan plastik bening, dan disembunyikan di dalam body alat refleksi kaki.

"Ditotal berat barang itu yakni 11 kilogram dengan nilai cukup fantastis yakni Rp 16,5 milyar. Jadi saat itu barang sudah dikemas di dalam bodi refleksi. Ada 12 dus kami sita. Hanya saja satu dusnya saja tidak berisi narkoba," katanya.

Pria yang akrab disapa Setio ini pun menjelaskan awal mula pengungkapan kasus peredaran narkotika jaringan internasional tersebut. Awal mula, pihaknya mendapat laporan ada paket mencurigakan yang baru datang dari Guangzhou.

Laporan itupun langsung ditindak lanjuti dengan menelusur ke lokasi ekspedisi di Kawasan Tanjung Priok. Kala itu, jelas Setio, Aziz saat itu tengah menerima paketan barang itu dan hendak dikirim ke Makassar.

"Kami langsung menggeledah barang itu, terbukti barang itu ada, dan kami bekuk Azis di lokasi. Keterangan dari Azis, barang yang baru tiba dari Guangzhou itu akan dikirim langsung ke Makassar dan diperuntukkan Hengky Sutedjo yang merupakan bandar di Makassar," katanya.

Setio pun langsung membentuk tim untuk melakukan pembuntutan (Surveilance). Tim pun berangkat ke Makassar untuk membekuk Hengky.

"Darman pun yang merupakan kurir Hengky di Makassar, tengah menunggu Aziz dan barang kirimannya, di Kawasan Stadion Grand Matoangin, yang menjadi lokasi titik temu mereka. Saat itu juga kami membekuk Darman, dan membekuk Hengky di lokasi terpisah berkat keterangan dari Darman," ujarnya.

Setio yang didampingi Wakapolres Jakarta Utara, AKBP Yully Kurniawan dan Kasatresnarkoba Polres Jakarta Utara, AKBP Apollo Sinambella, menjelaskan kembali, Hengky mengaku barang-barang tersebut hendak diedarkan ke langganannya yang sudah memesan.

"Jadi satu gram itu dinilai Rp 1,5 juta rupiah, kalau satu kilogramnya Rp 1,5 milyar. Barang-barang ini juga bakalan dikirmkan ke pemesannya. Nah ini juga yang menjadi masih dalam pengembangan kami soal kasus ini. Baik itu pemesan, bahkan bos bandar, masih didalami," ucapnya.

Akibatnya, ketiga pelaku terjerat Pasal 114 (2) Subsider Pasal 112 (2) Jo 132 (1) UU RI no 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Ancaman hukuman 6 tahun sampai seumur hidup, denda maksminal Rp 10 milyar," tuturnya.

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved