Breaking News:

Lipsus Warta Kota

Mobil Mewah Sudah Tak Eksklusif Lagi

Mengendarai mobil supermewah di Jakarta seolah sudah menjadi tren. Penggunanya bahkan menggunakan jasa Patwal

Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Dian Anditya Mutiara
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Sejumlah mobil mewah Lamborghini yang dikawal mobil polisi, Minggu (3/5) pagi. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Mengendarai mobil supermewah di Jakarta seolah sudah menjadi tren untuk masyarakat kalangan atas.

Bahkan, di beberapa kesempatan, para pengguna mobil supermewah ini ingin mendapatkan perlakuan eksklusif dengan menggunakan jasa Patwal ketika berkonvoi.

Tidak heran aksi mereka mendapat sorotan di sosial media (sosmed), karena polisi dianggap melakukan pembiaran terhadap mobil supermewah yang tak memasang plat kendaraan.

Di kesempatan lain, sejumlah mobil mewah dikandangkan polisi karena menggunakan pelat nomor yang tak terdaftar.

Terakhir, mobil Porsche milik artis Bella Sophie diamankan Satwilantas Polrestro Jakarta Utara lantaran menggunakan pelat nomor palsu.

Devie Rachmawati, Sosiolog Universitas Indonesia (UI) mengatakan, pelanggaran-pelanggaran itu merupakan bagian dari sifat berkuasa orang-orang yang merasa memiliki status sosial tinggi.

Mereka merasa telah memiliki tempat ekslusif di lingkungan sosialnya. Bahkan, mereka tak memikirkan jika mobil supermewah miliknya ditilang polisi gara-gara melanggar aturan lalu lintas karena dengan membayar denda tilang perosalannya akan beres.

Menurut Devie, mobil supermewah kini tak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif lagi karena semakin banyak masyarakat yang mampu membelinya.

Ia mencontohkan, mobil sekelas Alphard, Vellfire, atau Mercedes Benz seharga Rp 3 miliar kini sudah banyak dimiliki masyarakat luas.

“Mobil sekelas Alphard sudah banyak yang punya, bukan tak mungkin nanti akan jadi mobil 'sejuta umat' juga. Tren kepemilikan mobil mewah saya rasa akan berlanjut di masa depan,” katanya kepada Warta Kota, baru-baru ini.

Devie menilai, selama budaya primordial masih diagungkan masyarakat, orang akan berlomba-lomba mencari penghormatan dengan status sosial yang dimilikinya.

“Jika dulu masyarakat menghormati para penguasa karena kekuasaan atau kemampuan yang dimiliki mereka, kini masyarakat lebih hormat kepada simbol tertentu, seperti status sosial seseorang,” ujarnya. (Harian Warta Kota)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved