SBMPTN 2015

SBMPTN Tak Boleh Bedakan Penyandang Difabel

Menristekdikti menegaskan agar SBMTN memberikan keadilan bagi semua peserta, termasuk bagi penyandang difabel

SBMPTN Tak Boleh Bedakan Penyandang Difabel
Agustin Setyo Wardani
Menristekdikti Mohamad Nasir (tengah) didampingi Ketua Panitia SBMPTN Rochmat Wahab, dan Direktur Pembelajaraan dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Illah Sailah meninjau pelaksanaan SBMPTN bagi penyandang disabilitas di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (9/6/2015) pagi. 

WARTA KOTA, DEPOK - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meninjau pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi di dua kampus, Selasa (9/6/2015).

Dalam pelaksanaan SBMPTN yang serentak nasional itu, Nasir menegaskan bahwa SBMPTN harus memberikan keadilan bagi semua peserta, termasuk bagi penyandang difabel atau orang dengan ketunaan.

"Perhatikan anak disabilitas secara fisik tidak sama dengan kita. Pemerintah menjamin, yakni diberikan kesempatan sama agar dia bisa tes," kata Nasir di Universitas Indonesia, Selasa (9/6/2015) pagi.

Nasir juga meminta kepada rektor di PTN untuk tidak menolak siswa penyandang difabel. "Jangan sampai nggak diterima karena dia difabel," tegas Nasir.

Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu juga mengatakan, jangan sampai mengorbankan peserta difabel karena mekanisme seleksi yang tidak benar.

"Keadilan harus ditegakkan karena mereka bagian dari anak bangsa yang harus mendapatkan perlindungan negara. Panitia lokal harus menyediakan akses ke disabilitas," jelasnya.

Ia mencontohkan, misalnya jika peserta kesulitan menulis harus dibantu.

Sementara itu, Ketua Panitia SBMPTN Rochmat Wahab, menjelaskan dalam pelaksanaannya, siswa penyandang difabel yang menjalani seleksi akan dibantu membacakan dan menuliskan jawaban ke LJK.

"Ada petugas khusus yang akan membacakan soal dan mengisi jawaban bagi peserta penyandang difabel. Hal ini, karena dalam SBMPTN tidak ada soal dalam huruf braille," katanya.

Rektor UI Muhammad Anis menyebutkan pada pelaksanaannya di kampus UI jumlah pendaftar difabel sebanyak 12 orang, tetapi yang hadir dan mengikuti ujian hanya tujuh orang.

Menindaklanjuti arahan Menristekdikti, UI menyediakan pendamping bagi peserta difabel.

"Karena sifatnya tes, pendamping hanya membantu membacakan soal dan menuliskan di LJK. Pokoknya akan ada saksi, jangan sampai terjadi ketidakjujuran," jelasnya.

Adapun berdasarkan data panitia, jumlah pendaftar difabel sebanyak 287 orang dengan rincian tuna daksa 55 orang, tuna wicara 37 orang, tuna rungu 91 orang, dan tuna netra 104 orang. (Agustin Setyo Wardani)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved