Tip Sehat

Sekarang Hindari Minuman Kaleng karena Berpotensi Obesitas

Orangtua harus mulai memperkenalkan ke anak-anak soal manfaat minum air mineral sejak dini,

Sekarang Hindari Minuman Kaleng karena Berpotensi Obesitas
shutterstock
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH - Tidak hanya orang dewasa saja, masalah obesitas pada anak juga bisa terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Ani Sri Sukmaniah Msc, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Klinik Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di acara seminar media seputar Manfaat Puasa dengan Nutrisi Seimbang dan Pola Minum AQUA242  yang digelar di Restoran Harum Manis, Jakarta Pusat, Rabu (3/6).

“Orangtua harus mulai memperkenalkan ke anak-anak soal manfaat minum air mineral sejak dini, misalnya saat bangun dan beranjak tidur minimal sebanyak 1 gelas penuh. Kita juga harus sama-sama mengamati angka prevalensi obesitas pada anak,” ujar dr. Ani.

Salah satu fokus kesehatan soal masalah obesitas pada anak ialah terkait kalori tinggi yang sering terdapat di minuman kaleng berbagai rasa yang banyak beredar di pasaran. Selain mengandung pengawet dan pewarna, minuman tersebut mengandung kalori tinggi bahkan melebihi jenis minuman lainnya, contohnya minuman bersoda.

“Kalori untuk anak sebaiknya bersumber dari makanan saja, bayangkan satu kaleng soda mengandung 200 sampai 220 kalori yang berdampak langsung pada masalah obesitas,” terangnya.

Lebih lanjut, menurut dr. Ani, jika anak-anak sudah diperkenalkan oleh semua asupan makanan tidak sehat dan berkalori ringgi sejak dini, maka akan lebih sulit dihentikan dan diatur kebiasannya. Ia pun memaparkan sejumlah penyebab obesitas pada anak yang sangat kompleks, seperti faktor genetik, biologis, perilaku dan budaya.

Pada dasarnya, obesitas pada anak terjadi ketika anak makan lebih banyak kalori daripada kalori yang mampu dibakar oleh tubuhnya. Pasalnya, kurang dari 1 persen masalah obesitas disebabkan oleh masalah fisik.

Pemicu lainnya juga terkait oleh jumlah tidur anak yang mungkin sama pentingnya. Berdasarkan studi dalam Archives of Disease in Childhood, para peneliti menemukan jika anak-anak yang tidur kurang dari jumlah yang disarankan pada usia dua tahun lebih cenderung menjadi gemuk pada usia menjelang 7 tahun.

“Orangtua adalah pionir pertama agar anak terbiasa mengonsumsi kalori secara pas. Jika sudah terlanjur terjadi maka hal pertama yang mesti dilakukan adalah mengubah pola makan lewat program, tingkatkan aktivitas fisik, tidak memberikan makanan sebagai hadiah,” sarannya.

Ridho Nugroho 

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved