UP Yakini NS Titisan Tribuana Tungga Dewi
UP meyakini, istrinya adalah titisan Tribuana Tunggal Dewi, Raja Majapahit yang ketiga.
Penulis: Junianto Hamonangan |
WARTA KOTA, KRAMATJATI -- Ada sebuah fakta menarik kala pasangan UP dan NS menjalani pemeriksaan di Ruang Poliklinik Eksekutif RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (22/5).
Kuasa hukum pelaku, Handika Honggowongso menjelaskan bahwa UP meyakini, istrinya adalah titisan Tribuana Tungga Dewi, Raja Majapahit yang ketiga.
"Keyakinan itu dia diperoleh dari semacam bisikan gaib, membimbing dia melakukan ritual secara keislaman dan kejawenan dan sudah selama hampir enam bulan," katanya.
Lebih jauh Handika menjelaskan ada banyak kejadian yang dialami UP saat enam bulan berjalan. Ia meyakini itu semua adalah pertanda dari apa yang diyakini tersebut.
"Dia menceritakan banyak kejadian aneh yang dialami selama enam bulan. Contohnya seperti ketika marah, ubinnya retak, begitu juga dengan gentengnya dan itu terjadi di beberapa tempat," ungkapnya.
Sementara itu UP sendiri meyakini bahwa dirinya juga keturunan dari para raja-raja di masa lalu. UP mengaku sebagai keturunan Pangeran Samber Nyowo, Raja pertama Mangkunegara Solo.
Silsilah Tribhuwana
Menurut wikipedia, nama asli Tribhuwana Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) adalah Dyah Gitarja.
Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri dan memiliki adik kandung bernama Dyah Wiyat dan kakak tiri bernama Jayanagara.
Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328) ia diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana bergelar Bhre Kahuripan.
Menurut Pararaton, Jayanagara merasa takut takhtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya menikah.
Setelah Jayanagara meninggal tahun 1328, para ksatriya pun berdatangan melamar kedua putri.
Akhirnya, setelah melalui suatu sayembara, diperoleh dua orang pria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.
Cakradhara bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkawinan itu lahir Dyah Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Nertaja sebagai Bhre Pajang.
Pemerintahan Tribhuwana
Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya (Gayatri) tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang meninggal tahun 1328. Ketika Gayatri meninggal dunia tahun 1350, pemerintahan Tribhuwana pun berakhir pula.
Berita tersebut menimbulkan kesan bahwa Tribhuwana naik takhta mewakili Gayatri. Meskipun Gayatri hanyalah putri bungsu Kertanagara, tapi mungkin ia satu-satunya yang masih hidup di antara istri-istri Raden Wijaya sehingga ia dapat mewarisi takhta Jayanagara yang meninggal tanpa keturunan.
Tetapi saat itu Gayatri telah menjadi pendeta Buddha, sehingga pemerintahannya pun diwakili putrinya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi.
Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta.
Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.
Peristiwa penting berikutnya dalam Pararaton adalah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat dilantik sebagai rakryan patih Majapahit tahun 1334.
Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati makanan enak (rempah-rempah) sebelum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan Nusantara di bawah Majapahit.
Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali.
Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatera. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.
Nagarakretagama menyebutkan akhir pemerintahan Tribhuwana adalah tahun 1350, bersamaan dengan meninggalnya Gayatri. Berita ini kurang tepat karena menurut prasasti Singasari, pada tahun 1351 Tribhuwana masih menjadi ratu Majapahit.
Menurut Pararaton, Tribhuwanotunggadewi didharmakan dalam Candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih. Sedangkan suaminya, yaitu Kertawardhana Bhre Tumapel meninggal tahun 1386, dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa, yang terletak di desa Japan. (wikipedia)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150514alasan-kpai-akan-periksa-ayah-kandung-dani2_20150514_164507.jpg)