Inspeksi Mendadak
Menristek Naik Pitam di STEI Adhy Niaga Bekasi
Menristek Dikti Mohamad Nasir melakukan inspeksi mendadak ke Kampus STEI Adhy Niaga di Bekasi Barat, Kamis (21/5/2015) siang.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
WARTA KOTA, BEKASI - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir melakukan inspeksi mendadak ke Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STEI) Adhy Niaga di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi pada Kamis (21/5/2015) siang.
Setibanya di kampus berlantai empat itu, Nasir langsung mencari petugas administrasi di kampus tersebut. Kepada petugas, Nasir meminta sejumlah data yang terkait dengan biodata mahasiswa di sana.
"Bisa ditunjukan data-data mahasiswa dari tahun 2014 sampai 2011?" ujar Mohamad Nasir kepada Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan Faizi Michel.
Dihadapan sang menteri, Faizi tak mampu memenuhi permintannya. Dia berdalih, gedung kampus baru saja direnovasi, sehingga data yang diminta menteri belum bisa ditunjukkan. "Kami baru pindahan pak, jadi data-data belum kita rapikan semuanya," jelas Faizi.
Mendengar ucapan itu, Mohamad Nasir naik pitam. Pria yang kental aksen Kejawen ini, kemudian mengkritik kampus harus memiliki data yang lengkap terkait data mahasiswanya.
"Ndak benar ini, kok tidak bisa menunjukkan salinan datanya. Seharusnya pihak kampus punya salinan data terkait mahasiswanya," kata Mohamad Nasir.
Sekitar 10 menit kemudian, Ketua Yayasan Adhy Niaga Bekasi, Adhy Firdaus tiba ke kampus itu. Adhy berdalih, tidak bisa menunjukkan data yang diminta menteri karena Kepala Bagian Pendataan Kampus tengah berduka.
"Mohon maaf pak, Kepala Bagian Pendataan sedang berduka, karena orangtuanya ada yang meninggal dunia," ujar Adhy. "Tolong kasih kami waktu pak, untuk memberikan data-data itu," tambah Adhy.
Sang menteri kemudian beranjak ke lantai tiga, tempat di mana data-data mahasiswa tersimpan di sana. Nasir pun kembali meminta, agar pihak kampus memberi data terkait mahasisw tahun ajaran 2011 sampai 2014.
"Saya minta tunjukan data mahasiswa di sini," jelas Nasir.
Namun tetap saja, pihak kampus tidak bisa memberikan data yang diminta oleh Nasir. "Ini pak datanya," ujar salah seorang staf sambil memberikan beberapa dokumen. "Bukan ini data yang saya minta, tolong dicari dengan benar," kata Mohamad Nasir menjawab ucapan staf tersebut.
Usai mengunjungi kampus itu, kepada wartawan Nasir mengatakan, kunjungan ini dari pengaduan masyarakat yang diterima oleh instansinya. Berdasarkan laporan itu, kata Mohamad Nasir, pihak kampus STIE Adhy Niaga mengeluarkan ijazah tanpa mahasiswa yang mengikuti proses perkuliahan lazim di sebuah Perguruan Tinggi.
"Dalam pengaduan ini, STIE Adhy Niaga bisa memberikan ijazah sarjana tanpa mahasiswa ikut proses perkuliahan yang lazim. Masak tanpa kuliah, mahasiswa bisa memperoleh ijazah sarjana. Itu berarti ijazahnya asli tapi palsu," kata Nasir.
Nasir mengklaim, telah menerima pengaduan ini sejak pekan lalu. Adapun dugaan penjualan ijazah ini dilakukan oleh 18 kampus di daerah Jabodetabek dan Kupang, NTT.
"Kami sudah membentuk tim untuk melakukan investigasi terkait laporan ini. Bila ada perguruan tinggi yang terbukti melakukan itu, saya tidak segan-segan untuk mempidanakan pelakunya dan menutup kampusnya," kata Mohamad Nasir yang menilai kejadian ini bisa mencoreng pendidikan tinggi di Indonesia.
Adhy Firdaus membantah
Ketua Yayasan Adhy Niaga Bekasi, Adhy Firdaus membantah bila kampusnya menjual ijazah palsu. Adhy berdalih, kampusnya tengah dalam proses perombakan ruangan, sehingga sejumlah data yang diminta oleh menteri belum bisa tunjukkan.
STIE Adhy Niaga saat ini, akan merombak bangunan bagian belakangnya, sehingga banyak data yang dialihkan ke gedung lain yang disewa.
"Kedatangan pak Menteri mendadak, kami belum siap apa-apa, data copy ijazah tahun 2011 sampai 2014 yang diminta masih berantakan, karena sedang proses rombak ruangan," ujar Adhy Firdaus kepada wartawan.
Mengenai perkuliahan yang tak lazim, Adhy menegaskan, mayoritas para mahasiswanya mengikuti kegiatan belajar pada sore dan malam hari. Sebab kebanyakan mahasiswa di sana, ujar Adhy, adalah karyawan yang sejak pagi sampai sore bekerja di perusahan mereka.
"Ijazah akan dikeluarkan bila mahasiswa ikut proses perkuliahan secara benar. Sekali lagi saya tekankan, kami tidak menjual ijazah," kata Adhy Firdaus.
Adi mengklaim Ijazah yang dikeluarkan STIE Adhy Niaga sudah sesuai prosedur. Dia juga mempertanyakan, ijazah yang diduga asli tapi palsu yang beredar selama ini.
"Kami mau tahu, benarkah ijazah yang dijadikan dasar laporan ke kementerian itu ijazah kami. Karena kami memiliki kode khusus ijazah, sehingga kami bisa membedakan mana yang kami keluarkan atau bukan," kata Adhy Firdaus.
Menurut Adhy Firdaus, jumlah mahasiswa yang terdaftar di sana mencapai 3.000 orang. Mereka melaksanakan perkuliahan di beberapa tempat yang disewa oleh STEI Adhy Niaga.
"Kami sewa beberapa tempat untuk lokasi kuliah, seperti di Muara Gembong dan sebuah SMA untuk perkuliahan. Hal ini disebabkan, gedung utama tidak mampu menampung seluruh mahasiswa yang ada," kata Adhy Firdaus.
Adhy mempersilakan kepada Kemenristek dan Dikti untuk memberi sanksi, bila kampusnya terbukti melakukan praktik jual-beli ijazah S-1. "Kami taat hukum, silakan saja kalau terbukti beri kami sanksi," ucap Adhy Firdaus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sidak-menristek_20150521_174158.jpg)