Senin, 27 April 2026

Beras Plastik

Video Terungkapnya Beras Sintetis di Pasaran

Beras sintetis terbuat dari campuran plastik, kentang, ubi jalar dan getah sintetis beracun.

WARTA KOTA, BEKASI - Keberadaan beras plastik terungkap oleh seorang tukang bubur di Bekasi, Jawa Barat. Pemerintah Kota Bekasi pun langsung melakukan operasi pasar.

Dari operasi pasar tersebut, Pemkot mengambil sample beras yang diduga terbuat dari plastik tersebut untuk diselidiki.

Warga diminta waspada dan mengenali beras plastik. Beras sintetis terbuat dari campuran plastik, kentang, ubi jalar dan getah sintetis beracun.

Jika dibuat bubur, air tidak akan menyatu dengan beras. Jika dibuat nasi, beras semakin mengeras dan juga kering.

Beras sintetis dikenali dari aromanya yang hambar dan tidak ada aroma beras. Butiran beras sintetis cerah, halus dan tidak bergurat seperti beras asli.

Jika mengonsumsi beras sintetis akan mengalami gejala mual, muntah,kembung, diare, pusing. Jika dikonsumsi jangka panjang merusak sistem pencernaan dan kanker. 

Mual Usai Makan

Beras yang diduga mengandung bahan plastik itu ditemukan pertama kali oleh warga Sukmajaya Bekasi.

Putri Novaliani (25) dan Soni Pratama (1,5) anak sulungnya mendadak mual dan sakit di bagian perut setelah menyantap nasi yang dimasak dari beras itu pada Senin (18/5) lalu.

Diduga mereka mengkonsumsi beras palsu atau yang terbuat dari bahan sintetis berbahaya.

Ada yang aneh dengan nasi itu, lalu dia menanyakan hal ini ke Dewi Septiani (29), kakak kandungnya yang membeli beras itu.

Kepada Putri, Dewi mengaku beras itu ia beli dari sebuah agen beras di Pasar Tanah Merah Mutiara Gading, Mustikajaya dengan harga Rp 8.000 per liter pada Rabu (13/5) lalu. Saat itu, Dewi membeli beras sebanyak enam liter.

Setelah membeli beras, Dewi pergi selama beberapa hari ke rumah kerabatnya di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Sementara, Putri memasak beras itu di tempat usaha mereka di Perumahan Mutiara Gading Ruko GT Grande Blok F 19 RT 01/23, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.

Saat beras itu matang menjadi nasi, Putri bersama Soni menyantapnya hingga satu piring.Naas, beberapa menit kemudian Putri merasa mual dan sakit di bagian perut.

Perempuan beranak satu ini juga menderita diare pasca menyantap makanan itu. Meski demikian, Putri tidak memeriksa kesehatan dia dan anaknya ke dokter.

"Kami berdua hanya minum obat warung saja, karena alhamdulillah sudah agak mendingan setelah minum obat itu," kata Putri pada Selasa (19/5).

Putri mengaku, awalnya ia tidak menaruh curiga dengan nasi yang dikonsumsi. Sebab setiap hari, mereka mengkonsumsi beras yang dibelinya dari agen itu.

"Selama ini kami makan nasi baik-baik saja, makanya aneh kok bisa sakit," ujar Putri.

Secara kasat mata, kata Putri, nasi yang ia makan sama seperti nasi pada umumnya. Namun saat diteliti ketika belum dimasak, berasnya tampak berbeda dengan yang lain.

Menurutnya, beras tersebut tampak bening dan tidak memiliki guratan, berbeda dengan beras lainnya yang berwarna putih susu dan memiliki guratan.

"Kalau secara kasat mata tidak terlalu jelas, tapi kalau diperhatikan secara seksama terlihat perbedaan beras palsu dan asli," jelasnya.

Sementara itu Dewi merasa ada yang aneh dengan beras itu saat ia hendak memasaknya menjadi bubur.

Menurut Dewi, biasanya beras itu akan berubah menjadi bubur setelah dimasak selama satu jam.

Namun selama dimasak, beras tersebut tidak kunjung menjadi bubur, malah berbubah menjadi nasi aron (setengah matang).

Dia pun menambah takaran air ke masakan itu sebanyak dua liter atau seperti pada tarakan sebelumnya.

"Sudah saya kasih air sampai empat liter dan dimasak dua jam lagi, tapi berasnya tidak berubah menjadi bubur, malah tetap menjadi nasi aron," kata Dewi.

Merasa ada yang janggal dengan beras yang dimasaknya, lalu Dewi mencari tahu ihwal beras itu ke dunia maya.

Saat menelusuri informasi dari internet, Dewi terkejut beras yang dimasaknya adalah beras berbahan sintesis.

"Saya lihat di media sosial, youtube dan media online, beras yang saya masak sama seperti beras sintesis," ujar Dewi.

Berbekal informasi di media online, lalu Dewi melaporkan kejadian ini ke Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) dan mempostingnya ke media sosial miliknya. Dari situ, kasus dugaan beras palsu yang dialaminya menyebar luas ke media.

Akibat kejadian ini, Dewi terpaksa kehilangan omzet pendapatannya karena tidak bisa menjajakan bubur dan nasi uduknya.

"Biasanya dapat Rp 300.000 per hari, tapi karena kejadian ini saya tidak bisa berjualan," katanya.

Petugas yang mendengar keluhan ini, langsung mendatangi rumah mereka.

Pantauan Warta Kota di lapangan pada Selasa (19/5/2015), tampak Kepala Bidang Perdagangan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Desperindagkop) Kota Bekasi, Herbert Panjaitan beserta jajarannya datang ke rumah Dewi.

Tidak hanya itu, petugas Koramil 05 Bantargebang yang tahu kejadian ini juga datang ke lokasi untuk menanyakan hal ini ke Dewi.

Perempuan beranak satu ini, berdalih membeli beras tersebut dari seorang penjual beras berinisial S di Pasar Tanah Merah Mutiara Gading. Berbekal informasi itu, petugas kemudian beranjak ke toko S.

Pedagang diperiksa

Dihadapan petugas, S mengakui Dewi merupakan pelanggannya sejak lama. Menurutnya, Dewi membeli beras jenis Wayang dengan harga Rp 8.000 per liter.

Dia berdalih, beras yang dijualnya itu ia dapat dari agen beras di Karawang, Jawa Barat. "Saya beli ini dari Karawang, selama ini berasnya tidak pernah ada masalah," ujar S kepada petugas.

Baru menjawab pertanyaan petugas Disperindagkop, tiba-tiba S hendak digiring ke kantor polisi oleh petugas Polsek Bantargebang.

Ketegangan antara petugas Disperindagkop dan Polsek Bantargebang akhirnya tak bisa dihindarkan.

Penyidik berdalih, sengaja mengamankan S ke kantor untuk menghindari gejolak di kalangan masyarakat.

Sedangkan Herbert, menegaskan tengah meminta keterangan dan mengambil sampel beras dari S.

"Sebentar dulu pak, kami juga dan ingin menanyakan kepada bapak ini," kata Herbert.

"Tapi ini sudah ramai warga, dikhawatirkan akan timbul gejolak di sini," ujar Ajun Komisaris Bambang selaku anggota Polsek Bantargebang yang menggiring S ke dalam mobil polisi.

Setelah petugas Disperindagkop mengambil sampel beras milik S sebanyak 300 gram, kemudian polisi membawa S beserta lima karyawannya ke kantor polisi.

Penyidik juga mengamankan barang bukti berupa satu karung beras jenis Wayang seberat 50 kg dari toko itu.

Di sela-sela waktu itu, Herbert mengungkapkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan BPOM untuk memeriksa sampel beras yang diambil petugas. Menurutnya, kemungkinan hasil uji lab itu akan keluar dalam waktu tiga hari.

"Hasil uji lab ini yang akan menenentukan apakah beras ini asli atau mengandung bahan sintetis," kata Herbert.

Herbert mengatakan, hasil lab itu nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan apakah dugaan ini dibawa ke ranah hukum atau tidak.

Apabila sampel itu terbukti mengandung bahan berbahaya, maka pihaknya akan melaporkan kejadian ini ke polisi.

"Kalau ini berbahaya sudah masuk pidana dan harus dilaporkan ke polisi," ujar Herbert.

Yuyun (32) salah seorang pembeli di pasar itu, mengaku terkejut begitu mengetahui polisi membawa S dari tokonya.

Yuyun mengatakan, selama ini ia selalu membeli beras di toko S dan tidak pernah mengalami hal aneh terhadap beras yang dibelinya.

"Selama ini saya makan nasi dari penjual itu, enak-enak saja. Tidak ada masalah, mungkin ada orang yang jahat berniat memfitnahnya," kata Yuyun.

Jani Tarigan (46) penjual sayuran di pasar itu, menambahkan ia tidak menyangka S bakal dibawa polisi.

Padahal selama ini, S selalu menjual beras berkualitas bagus dan pelanggannya sangat banyal. "Saya yakin pasti ada yang salah, dia orangnya baik dan jujur kok," jelas Jani. (Warta Kota/fitriyandi al fajri/)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved