Kalau Ada Tes Keperawanan, Kok Tidak Ada Tes Keperjakaan?
Salah satu tes yang harus dilewati untuk jadi bintara TNI adalah melalui tes keperawanan, yang memicu kontroversi dan diulas media mancanegara.
WARTA KOTA, PALMERAH -- Sejumlah pihak bereaksi terkait dengan tes keperawanan yang harus dilalui seorang calon bintara Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pandangan itu misalnya disampaikan oleh anggota Komisi I DPR, Mayjen (purnawirawan) TB Hasanuddin, yang menilai, setiap orang memang harus menghormati norma yang dianut suatu bangsa.
"Saya sangat sepakat bahwa seseorang yang belum nikah dilarang melakukan hubungan seks, baik untuk perempuan maupun untuk laki-lakinya, tanpa terkecuali," katanya di Jakarta, Selasa (19/5/2015).
Namun demikian, kata politisi yang sering disapa TBH ini, seseorang yang sudah tidak perawan lagi, tapi diambil haknya menjadi calon bintara TNI alias dinyatakan gagal patut untuk dipertimbangkan ulang .
"Perlu diperdalam, apakah mereka yang tidak perawan itu moralnya rusak? Lalu, bagaimana dengan calon prajurit prianya, apakah harus dites keperjakaannya biar adil?" kata dia.
Kalau mengacu kepada aturan Undang-Undang (UU) TNI, kata TBH, aturan itu tidak tepat.
"Dalam pasal 28 UU TNI no 34/2004 ada 8 persyaratan umum yang ditentukan untuk menjadi prajurit TNI," katanya.
Dalam UU itu, tidak tercantum bahwa seorang kandidat itu harus perawan atau perjaka.
"Ditegaskan juga dalam pasal 28 (2) bahwa delapan persyaratan tersebut di atas dan persyaratan lainnya harus dengan keputusan Menteri Pertahanan, bukan keputusan Panglima TNI,' katanya.
Sementara itu, media mancanegara Time, juga menyoroti aturan tersebut dalam ulasannya.
Selama bertahun-tahun, wanita Indonesia ingin bergabung sebagai tentara dan polisi, juga sebagaian di antaranya ingin menikah dengan kalangan tersebut, tapi mereka selama ini mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman untuk melewati tes keperawanan.
Tentu saja, itu sebenarnya merupakan sebuah noda dalam sejarah bangsa Indonesia, yang selama ini disembunyikan.
Meski suara-suara di antaranya disampaikan sendiri oleh kalangan militer, tapi tes keperawanan memang berlangsung dan tes tersebut acap mengubur mimpi perempuan Indonesia untuk menjadi bagian dari tentara atau polisi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/tes_20150519_164307.jpg)