Korupsi Kasus UPS

Soal UPS, Para Pejabat Saling Lempar Tanggung Jawab

Siapa pihak yang bertanggung jawab dalam pengusulan pengadaan uninterruptible power supply pada tahun 2014, belum jelas.

Soal UPS, Para Pejabat Saling Lempar Tanggung Jawab
Warta Kota/Agustin Setyo Wardani
UPS di SMAN 35 Jakarta Barat yang diketahui seharga Rp 5,8 miliar. 

WARTA KOTA, BALAI KOTA - Siapa pihak yang bertanggung jawab dalam pengusulan pengadaan uninterruptible power supply (UPS) pada tahun 2014, belum jelas.

Sampai saat ini, sejumlah pihak yang terkait, baik pejabat legislatif, eksekutif, hingga pihak sekolah tampak saling lempar tanggung jawab.

Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta Fahmi Zulfikar Hasibuan membantah lembaganya sebagai pihak yang mengusulkan pengadaan alat yang berfungsi untuk penyedia daya listrik cadangan itu.

Fahmi yang saat ini berstatus saksi dari kasus dugaan korupsi UPS mengatakan pengadaan alat tersebut merupakan usulan dari sekolah yang membutuhkan.

"Bukan (DPRD DKI yang mengusulkan), tetapi itu usulan dari sekolah, kami (DPRD) yang mengakomodasi," ujar dia seusai diperiksa penyidik Bareskrim Polri di Mabes Polri, Rabu (29/4/2015).

Pernyataan Fahmi ini sebenarnya bertolak belakang dari pengakuan sekolah-sekolah yang menerima UPS. Beberapa waktu lalu, sejumlah pihak sekolah secara tegas menyatakan tidak pernah mengusulkan pengadaan alat yang diduga dibeli dengan harga tidak wajar itu.

Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 78 Nur Isna Mulyati, mengatakan, pihaknya tidak pernah mengajukan permohonan untuk pengadaan UPS.

Ia menjelaskan, UPS datang pada November 2014 lalu. Kedatangan UPS pun tidak pernah diminta pihak sekolah. Pihak sekolah hanya menerima alat tersebut dan menganggapnya sebagai barang bantuan.

"Pihak sekolah tidak pernah meminta dan mengajukan pengadaan UPS ke Suku Dinas Pendidikan," kata Isna saat ditemui, Jumat (27/2/2015).

Senada dengan Nur, Kepala Sekolah SMA Negeri 16 Cedarkurnia mengatakan UPS tiba-tiba diantar ke sekolah sekitar November 2014. Padahal, ia menilai keberadaan UPS di sekolahnya belum begitu penting.

Halaman
123
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved