Hanif Dhakiri Lupa Nomor Rumah

"Saya sudah tinggal di Permata Depok sejak tahun 2000. Di sektor Pirus No 12. Eh, nomornya bener ya ma?" kata Hanif Dhakiri.

Hanif Dhakiri Lupa Nomor Rumah
Warta Kota
Menteri ketenagakerjaan Hanif Dhakiri membuka kegiatan Permata Cup di Pondok Jaya Kecamatan Cipayung Depok, Minggu (26/4). Ketua panitia pelaksana Andi Chaniago menyebut kegiatan tersebut merupakan ajang silaturahmi warga, sekaligus ikut memasyaratkan olahraga. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Mungkin tidak semua pejabat hafal dengan nomor rumah sendiri. Salah satunya adalah Menteri Ketenagakerjaa Hanif Dhakiri. Ketika membuka kegiatan Permata Cup di Pondok Jaya Kecamatan Cipayung Depok, Minggu (26/4) Hanif salah menyebut nomor rumahnya.

"Saya sudah tinggal di Permata Depok sejak tahun 2000. Di sektor Pirus No 12. Eh, nomornya bener ya ma?" kata Hanif ke arah sang istri Ifah Dhakiri.

Sambil tersenyum sang istri pun menjawab "Salah, nomor 14,". Kali ini Menteri Hanif yang tertawa.

"Saya pilih tinggal Permata Depok, karena masih hijau dan talisilaturahmi masih terjaga. Kalau di Jakarta, mungkin jika ada tetangga yang meninggal kita tidak. Berbeda dengan di sini. Saya juga ingin tiga anak saya bisa bersosialisasi dengan baik dengan masyarakat sekitar," tutur Hanif.

Ia mengaku jarang pulang kekediaman pribadinya di Depok karena kesibukannya. Sebelum menjadi menteri, Hanif adalah anggota DPR dari Fraksi Kebangkitab Bangsa. Saat ini pun ia masih tercatat sebagai salah satu ketua di DPP Partai Kebangkitan Bangsa.

"Saya sering rindu pulang ke Depok. Banyak yang berniat membeli rumah saya, tapi saya selalu menjawab bahwa rumah itu noto for sale. Kalau saya sudah pensiun jadi menteri, kan saya kembali ke rumah itu juga," kata menteri kelahiran Semarang yang tak enggan nongkrong di pos satpam jika sedang berada di rumah.

Pada kesempatan itu Hanif juga mengungkapkan pemerintah sudah berusaha maksimal terkait hukuman mati TKI Siti Zaenab yang membunuh majikannya di Arab Saudi. Berbagai langkah, mulai dari langkah formal mau pun informal telah diupayakan. Namun ternyata pihak keluarga tidak memaafkan.

"Kuncinya ada pada keluarga korban. Pemerintah sudah menyiapkan uang darah atau diyat sebesar Rp 2 miliar, namun ditolak keluarga majikannya," kata Hanif, yang sempat bikin heboh karena memanjat pagar rumah saat mengerebek sebuah penampungan TKW ilegal beberapa waktu lalu.

Penulis: Rusna Djanur Buana
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved