Senin, 13 April 2026

Divine Production Manfaatkan Siswa Jual Undangan Pesta Bikini Lewat Line

Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengadakan pertemuan dengan sejumlah kepala sekolah yang nama sekolahnya dicatut dalam undangan Pesta Bikini.

istimewa

WARTA KOTA, SETIABUDI-Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jumat (24/4/2015) siang mengadakan pertemuan dengan sejumlah kepala sekolah yang nama sekolahnya dicatut dalam undangan Pesta Bikini bertajuk Splash after Class, sebuah perayaan bagi siswa siswi SMA setelah menjalankan Ujian Nasional (UN).

Sedianya, pesta yang berlokasi di The Media Hotel and Tower itu akan diadakan Sabtu (25/4) malam namun ternyata dibatalkan oleh pihak penyelenggara yakni event organizer (EO) Devine Production.

Sebanyak 12 orang kepala sekolah dari berbagai SMA di Jakarta diundang Dinas Pendidikan untuk menyampaikan kronologis kejadian yang menyebabkan nama sekolahnya ikut tercatut.

Kepala SMAN 53 Jakarta Dumaria mengaku sangat kaget sekali mendengar nama sekolahnya ikut dicatut dalam kegiatan pesta setelah UN itu. "Saya kaget seperti tersambar petir di siang hari. Tidak menduga ada berita seperti itu di sekolah kami," katanya.

Guna mengatasi berita yang membuat rusaknya nama baik sekolah ini, Dumaria lalu meminta guru bimbingan dan konseling untuk menghubungi siswa-siswa kelas XII. Hal serupa diamini oleh para kepala sekolah yang justru kaget karena nama sekolahnya terbawa-bawa hingga ramai menjadi pemberitaan media.

Sementara itu, Kepsek SMKN 50 Adip Wiratmono, menyatakan ada siswa yang diiming-imingi imbalan Rp 30.000 per tiket jika berhasil menjual tiket pesta pelepas penat UN itu. Adip mengatakan, siswa tersebut sebenarnya hanya dimanfaatkan untuk menjual tiket.

"Siswa tersebut mengaku mendapatkan tawaran dari seseorang melalui Line (pesan instan). Namun orang tersebut tidak pernah dikenalnya secara langsung. Ia juga tidak menyebutkan detail acara. Karena memang berasal dari keluarga kurang berkecukupan, siswa tersebut akhirnya mengiyakan untuk menjual tiket," kata Adip.

Namun, yang terjadi menurut penulusurannya, siswa belum berhasil menjual satupun tiket. Ia menyayangkan, mengapa EO bisa memanfaatkan siswa siswi SMA yang berada dalam masa penat setelah UN untuk menjual tiket pesta semacam ini.

Sementara, kejadian lainnya di SMAN 29 Jakarta, tiga orang siswi justru dimanfaatkan untuk menjadi model promosi acara pesta berdresscode bikini itu. Ratna mengatakan, salah satu siswanya sempat ditawari oleh seseorang melalui media Line.

"Siswa SMA karena ditawari mempromosikan sesuatu maka dia mengajak ketiga temannya. Akhirnya tiga siswi kami disyuting di sekolah untuk mempromosikan acara. Tetapi tidak diberitahu detail pesta seperti apa yang diadakan itu," katanya.

Video tersebut kemudian diunggah di Youtube. Selanjutnya, video yang direkam EO Devine Production itu menjadi media promosi dengan melibatkan nama sekolah yang sebenarnya tidak mengetahui apa-apa soal pesta merayakan selesainya UN itu.

Kaget dengan hal tersebut, Ratna lantas berinisiatif untuk membersihkan nama sekolah. Pasalnya, sekolahnya memang menjunjung tinggi kegiatan positif, sehingga tidak mungkin siswa siswinya diizinkan untuk kegiatan pesta di kolam renang itu. (Agustin Setyo Wardani)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved