Hanung Bramantyo Siapkan Film Kartini yang Lincah

Hanung Bramantyo kembali meramaikan film biopik tokoh di zaman pergerakan. Dengan mengangkat sosok RA Kartini

Hanung Bramantyo Siapkan Film Kartini yang Lincah
Warta Kota/nur ichsan
Hanung Bramantyo 

,WARTA KOTA, MENTENG - Belakangan sineas-sineas Indonesia mulai tertarik membuat film biopik tokoh-tokoh besar Indonesia yang meletakkan fondasi bangsa ini.

Mulai dari Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah, KH Hasyim Ashari di film Sang Kyai, Soekarno, dan paling terakhir film Guru Bangsa Tjokroaminoto.

Kali ini Hanung Bramantyo kembali meramaikan film biopik tokoh di zaman pergerakan. Bukan dari sosok tokoh pria melainkan sosok wanita Indonesia yang diangkat. Sosok itu adalah Raden Ajeng (RA) Kartini.

Menurut Hanung, sosok Kartini dipilih karena pemikiran dan perjuangan di masa hidupnya (1879-1904) yang masih relevan dan signifikan hingga hari ini.

Pasalnya banyak generasi muda tak tahu apa yang diperjuangkan Kartini karena yang mereka tahu Kartini hanya diperingati secara upacara saja.

"Yang mereka tahu, hari Kartini hanya identik dengan hari di mana wanita harus mengenakan kebaya dan menjadi simbol emansipasi wanita," tutur Hanung saat Gathering Film Kartini di Djakarta Theater, Rabu (22/4/2015).

Padahal banyak hal yang bisa diambil dari sosok Kartini mulai dari pemikirannya, perjuangannya, hingga kesehariannya. Hal itulah yang belum diangkat pada film Kartini (1982) karya Syumandjaya terdahulu.

"Kartini itu masih ABG, dia bukan ibu dan masih muda. Saya ingin gambarkan dia yang lincah dan cerewet. Itu yang enggak ada di film terdahulu yang penggambarannya lemah lembut dan anggun. Makanya saya ingin buat Kartini yang sesungguhnya agar sesuai dengan kehidupan anak muda masa kini,"

Hanung menambahkan kenapa dirinya tak mengangkat pahlawan nasional perempuan lain yakni Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, dan Dewi Sartika dalam filmnya. Padahal perempuan-perempuan itu jelas melawan dengan cara berperang terhadap penjajah.

"Ada satu yang menarik dari Kartini, dia melawan lingkungan. Struktur yang ada di masyarakat Jawa tentang perempuan dan antara bangsawan dan rakyat jelata. Kartini enggan dipanggil mengenakan gelar bangsawannya," ujar Hanung.

Untuk memerankan Kartini yang sesuai dengan gambaran Hanung, dipilihlah Dian Sastrowardoyo. Pemilihan Dian juga tak sembarang, Hanung sempat menginginkan aktris perempuan berkisar umur 12-23 tahun tapi enggak dapat.

"Tadinya Dian itu jadi Ngasirah ibunya Kartini yang dari rakyat jelata. Tapi akhirnya saya butuh ikon anak muda agar bisa menyampaikan pesan-pesan. Dan saya minta Dian jadi ABG lagi menjadi Cinta di AADC yang memakai kebaya," kata suami dari Zaskia Adya Mecca itu. (Wahyu Tri Laksono)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved