Breaking News:

Gugatan dan Tanda Tanya Terhadap Peringatan Hari Kartini

Sejumlah pengguna Twitter menggugat perayaan Hari Kartini karena dinilai ada yang lebih pantas untuk diperingati.

Editor: Gede Moenanto
BBC.co.uk

WARTA KOTA, PALMERAH -- Sejumlah pengguna Twitter menyatakan sosok Cut Nyak Dien lebih pantas dihargai dibandingkan Kartini di tengah perayaan Hari Kartini, Selasa (21/4/2015).

"Kartini adalah simbol bahwa perempuan hanya butuh tinggal di rumah dan tidak butuh pergi ke medan perang seperti Cut Nyak Dien dan lainnya," kata Pradikta Dwi Anthony lewat ‏@TravellersID, dalam bahasa Inggris, yang dikutip BBC.

Lainnya menulis, "Lebih layak Cut Nyak Dien ketimbang Kartini, Kartini mah perjuangannya gak ada- kata seorang nenek depan rumah," kata Ivan Gabe melalui ‏@gabe_gabe_an.

Kata kunci Cut Nyak Dien sempat menjadi topik populer di Twitter Indonesia dan dikicaukan lebih dari 2.500 kali. Perempuan asal Aceh ini dikagumi karena keberaniannya memimpin pasukan melawan Belanda, setelah suaminya, Teuku Umar, gugur.

"Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika," kata Mariana Amiruddin ‏melalui @marianamiruddin.

Pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengatakan dipilihnya Kartini sebagai sosok perempuan pejuang versi Belanda memang berlatar politis.

"Kartini itu sosok yang dimunculkan oleh Pemerintah Belanda. Di awal tahun 1900-an, figur itu diciptakan Pemerintah Belanda untuk mengendalikan kaum perempuan."

Pemerintah Belanda saat itu ingin mengatakan bahwa perempuan "seharusnya seperti Kartini, yang tidak berjuang memanggul senjata, menurut pada orang tua, dan memakai kebaya."

"Ini justru tanda kutip melemahkan perempuan. Yang pasti pemerintah Belanda saat itu ketakutan untuk memilih sosok perempuan yang lebih berani."

Di masa pemerintahan Indonesia, keputusan untuk menjadikan Kartini sebagai pahlawan perempuan pertama juga dinilai sebagai keputusan politis.

Surat-surat Kartini kepada para sahabat-sahabatnya di Belanda menginspirasi banyak orang terutama dalam hal pendidikan untuk perempuan.

Salah satu kutipan yang terkenal adalah sebuah surat yang ia buat untuk Rosa Manuela Abendanon-Mandri tahun 1901, "Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami."

Hendri F. Isnaeni, dalam tulisannya di situs Historia.id, menulis bahwa setelah Kartini meninggal perjuangan untuk mendirikan sekolah untuk perempuan kemudian terwujud atas bantuan teman-temannya di Belanda.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved