Ahok Dinilai Sebagai Pemimpin yang Hidup di Alamnya Sendiri
Seseorang boleh memakai kata-kata kotor dan keji, asal dia memerangi korupsi maka dia patut dibela.
WARTA KOTA, JAKARTA - Keinginan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mempekerjakan prajurit TNI-Polri menjadi pegawai honorer Pemprov DKI Jakarta menuai pro-kontra.
Tantowi Yahya, anggota DPR RI daerah pemilihan Jakarta angkat bicara terkait rencana tersebut.
"Ahok ini pemimpin yang hidup di alamnya sendiri. Cara berpikir dia tidak sama dengan kita. Outputnya memimpin dengan cara dia," kata Tantowi lewat pesan singkatnya, Minggu (19/4/2015).
Politisi Partai Golkar ini menyebutkan, Ahok menjadi arogan karena merasa dapat dukungan dari kelompok-kelompok yang ingin dirinya menggunakan cara versi 'Ahok' untuk membereskan Jakarta dan permasalahan bangsa dengan caranya.
"Bahwa dia melanggar hukum, kesopanan dan norma-norma lainnya menjadi nggak penting. Yang penting pekerjaan harus beres," katanya.
"Seseorang boleh memakai kata-kata kotor dan keji, asal dia memerangi korupsi maka dia patut dibela. Rakyat itu belajar dari pemimpinnya," kata Tantowi.
Lebih lanjut Wakil Ketua Komisi I DPR itu berharap, agar masyarakat tidak salah melihat permasalahan DKI.
"Kita memang sedang memasuki zaman kebalik-kebalik yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan," katanya.
Diberitakan sebelumnya, niat Ahok memberdayagunaan prajurit ini untuk membantu upaya penegakan hukum yang selama ini dikerjakan Satpol PP dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
"Saya bilang, untuk apa kita bayar terlalu banyak honorer untuk Satpol PP, Dishub kalau kerjanya juga nggak jelas. Kenapa nggak TNI-Polri?" kata Ahok di Balaikota, Jakarta, Jumat (17/4/2015).
Menurut mantan Bupati Belitung Timur itu, selama ini tugas TNI tidak terlalu berat, terutama karena negara tidak dalam keadaan perang.
Sehingga prajurit dapat membantu Pemprov DKI Jakarta, selain tugas latihan sehari-hari.
"TNI-Polri kalau tidak perang kan kerjanya nggak terlalu banyak, cuma latihan. Kenapa kita nggak kasih dia harian? Lebih disiplin," ujar Ahok.
Dia terkesan dengan kerja para petugas saat bertandang ke Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat.
Kondisi toilet dan rumput yang ada di lapangan begitu terawat.
Ahok mengatakan, prajurit TNI-Polri akan diberi honor Rp 250 ribu per hari kerja.
Jika mereka bekerja 20 hari saja sudah bisa mendapat Rp 5 juta per bulan.
Berbeda dengan PNS yang gajinya paling rendah Rp 9 juta per bulan.
"Daripada jadi oknum jaga-jaga bar atau keamanan cafe. Belum tentu dibayar segitu mahal. Ini bisa Rp 4 juta atau Rp 5 juta. Lebih baik begitu. Kita ada penghematan," kata Ahok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150420-tantowi-yahya_20150420_003158.jpg)