Bocah TK Disodomi

Istri Terpidana Guru JIS Laporkan Ortu Korban dan Dokter ke Bareskrim

Sisca melaporkan tiga orang tua yang mengaku anaknya disodomi dan tiga Dokter Indonesia yang membuat visum.

Istri Terpidana Guru JIS Laporkan Ortu Korban dan Dokter ke Bareskrim
youtube.com/ahmad sabran
Istri terpidana guru JIS Ferdinant Tjiong, Sisca Tjiong bersama kuasa hukumnya Hotman Paris Hutapea menanggapi pertanyaan wartawan usai melapor ke Bareskrim Polri, Rabu (15/4). 

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU - Istri terpidana guru Jakarta Intercurtural School (JIS) Ferdinant Tjiong, Sisca Tjiong bersama kuasa hukumnya Hotman Paris Hutapea melaporkan orangtua korban dan dokter ke Bareskrim Polri, Rabu (15/4).

Sisca melaporkan Dugaan Keterangan Palsu di Bawah Sumpah Saat Persidangan mengenai Laporan Visum. Sisca melaporkan tiga orang tua yang mengaku anaknya disodomi dan tiga Dokter Indonesia yang membuat visum.

Dikatakan Hotman, keterangan dokter bedah dan dokter anastesi di Rumah Sakit di Singapura yang telah melakukan bius total dan pemeriksaan anus secara menyeluruh (anuscopy) dengan hasil temuan bahwa anus anak normal atau tidak ada ditemukan tanda-tanda bekas sodomi).

“Akan tetapi beberapa minggu kemudian dikeluarkan visum untuk anak yang sama oleh oknum dokter-dokter di Indonesia yang juga berprofesi sebagai dokter bedah namun dengan hasil yang berbeda. Oknum dokter Indonesia mengatakan terdapat bekas luka parut di ujung usus padahal tidak pernah diperiksa secara menyeluruh dan tanpa dibius. Bahkan di pemeriksaan lainnya, anak tersebut diperiksa di UGD, sementara bius dan anuscopy tidak mungkin dilakukan hanya di UGD,” jelasnya.

Menurut Hotman, pertimbangan hukum dan sikap Majelis Hakim dalam putusan terhadap dua guru JIS tidak menunjukkan sikap hakim yang bijaksana dan adil yang mendasari keputusannya berdasarkan bukti rekayasa melainkan seolah-olah menggambarkan ada unsur ketidaksukaan hakim.

“Visum yang terburu-buru dan Putusan Majelis Hakim yang menghukum Terdakwa 10 tahun terlihat dibuat secara terburu-buru untuk mengejar waktu agar putusan perkara pidana terhadap 2 (dua) guru JIS dapat dipakai sebagai bukti untuk mendukung gugatan ganti rugi sebesar 125 juta dolar AS,” ujarnya.

Hal ini semakin jelas terlihat atas sikap Ketua Majelis Hakim yang membatasi kuasa hukum untuk bertanya paling lama dua jam kepada setiap saksi di Persidangan.

“Padahal tidak dikenal adanya batasan waktu bertanya dalam KUHAP. Pembatasan waktu ini terkait dengan putusan perkara guru JIS untuk digunakan sebagai bukti dalam gugatan perdata sebesar 125 juta dolar AS,” ujarnya. (sab)

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved