Ujian Nasional
Diduga Ikut Aliran Sesat, Siswa SMKN 56 Tidak Ikut UN
Ada dua peserta ujian yang tidak ikut ujian nasional (UN) di wilayah I Jakarta Utara.
WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK - Kepala Suku Dinas (Kasudin) Pendidikan Wilayah I Kota Administrasi, Jakarta Utara, (Tanjung Priok, Pademangan, Penjaringan), Mustafa Kemal mengaku sebanyak dua peserta ujian yang tidak ikut ujian nasional (UN).
Salah satu dari peserta ujian tersebut, kata Kemal, mengundurkan diri dari ujian bersistem Computer Based Test (CBT), diduga mengikuti aliran sesat di Bogor, hingga mengalami sakit.
"Dua siswa yang tidak masuk, yakni dari SMK Penabur 6, peserta itu tengah menjalani operasi usus di rumah sakit. Sedangkan satunya lagi, yakni peserta ujian dari SMKN 56. Dia sakit dan tengah di rawat di Kawasan Tangerang," terangnya saat melakukan pemantauan UN di Jubilee School, Jalan Sunter Jaya I, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (14/4/2015).
Uniknya, peserta ujian di SMK 56 Pejagalan ini selain sakit, mengundurkan diri dari ujian berbasis CBT. Saat ditanyai lebih lanjut, Kemal mengaku siswa bernama Mohammad Effendi sakit lantaran diduga sempat mengikuti aliran sesat di Kawasan Bogor.
"Ceritanya begini, siswa bernama Mohammad Effendi, siswa di SMKN 56 ini memang mengundurkan diri. Awalnya, orangtuanya mengaku tidak setuju akan ujian CBT," katanya.
Ia pun mengatakan, Kemal saat itu dihubungi langsung oleh kepala sekolah terkait siswa yang mengundurkan diri dari CBT.
"Saat itu, kepsek nelpon saya. Orangtuanya mengaku ke kepsek, anaknya mengalami stress dan mengundurkan diri dari ujian CBT. Anak itu katanya sering bengong dan histeris di rumahnya di Kawasan Kapuk Muara, Penjaringan," tuturnya.
Kemal pun melanjutkan, "ada informasi itu, saya langsung menghubungi Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) DKI Jakarta, Arie Budhiman. Beliau mengimbau saya untuk menghubungi sekaligus menyambangi kediaman siswa itu," terangnya.
Saat ditemui, kedua orangtua siswa tersebut tetap menolak anaknya mengikuti CBT. Sebab, sudah dirawat di Kawasan Tangerang. Kemal juga mengaku sempat bertanya-tanya ke tetangga sebelah kediaman siswa tersebut.
"Jadi tak hanya orangtua, beberapa tetangganya mengaku anak ini sempat ikut seseorang ke Kawasan Bogor. Ngomongnya sih ikut aliran sesat. Sampai-sampai di rumah, perilaku anak ini berubah. Jadi sering bengong, malahan sering histeris di rumah," ungkapnya.
Menurut dia, siswa tersebut bisa mengikuti ujian CBT susulan. "Apabila menolak lagi, terpaksa ikut ujian tahun depan," katanya. (Panji Baskhara Ramadhan)