Senin, 27 April 2026

Konsultasi

Alasan Perlunya Mengenali Gejala Psikopatologi

Untuk mengatakan bahwa W seorang yang hiperseks adalah satu hal yang tidak mudah.

Kompas Cetak

Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen

Sebelum kita mampu mengenali kemungkinan keberadaan gejala psikopatologi pada calon pasangan kita, kita sendiri hendaknya mampu mengenali diri kita sendiri, sejauh mana kondisi kesehatan mental kita.

Jabaran rentang dimensional perilaku sehat mental:
- Memiliki kemampuan menerima diri, baik secara fisik, psikis, sosial, dan spiritual, maupun mampu beradaptasi secara sosial.

- Memiliki kemampuan menempatkan diri secara proporsional dalam menghadapi segala tantangan hidup dan permasalahan yang dihadapkan lingkungan terhadap diri kita.

Hal ini menandakan beberapa hal:
a. Mampu mengintegrasikan fungsi rasio dan kendali emosi.

b. Mampu melakukan penyesuaian diri dengan diri sendiri dan lingkungan tempat kita berada.

c. Mampu mengenali batas potensi yang kita miliki.

d. Mampu memiliki orientasi masa depan yang jelas.

e. Memiliki ambisi berprestasi sesuai dengan orientasi masa depan dan potensi yang kita miliki.

f. Memiliki semangat hidup dan menikmati hidup.

g. Nyaman, aman, dan bahagia.

h. Kalaupun menghadapi stres lingkungan, dalam waktu relatif singkat mampu recover.

Di manakah posisi kita?
• Kita kenali diri kita dan posisi kita dalam rangkaian rentang dimensional sehat mental.

• Sadari kekurangan yang ada pada diri dan upayakan peningkatan pemanfaatan potensi diri seoptimal mungkin.

• Apabila ada kelebihan yang kita kenali dari keluarga/teman /figur idola, tidak perlu iri hati/dengki. Namun, kita coba menempa diri agar terjadi peningkatan dari manifestasi potensi yang kita miliki.

• Setelah berupaya… terima apa adanya dengan jiwa besar, yang membuat kita akan mampu mawas diri dan terhindar dari kebiasaan menyalahkan lingkungan. Rileks....

Kasus
Saya M (perempuan, 37 tahun) baru sekali merasakan pacaran. Saya berpacaran dengan pariban (sepupu yang bisa menikah, dari adat Batak). Usia pacar saya 25 tahun. Tentu saja orangtua saya tidak merestui mengingat beda usia dengan saya 12 tahun. Rumah saya berdekatan dengan kantor dan mes tempat tinggalnya. Kami backstreet entah kenapa kami punya rasa cinta. Padahal, saya tak pernah berpikir mau berpacaran dengan pria di bawah usia saya. Namun, ternyata pariban saya tersebut (sebut saja W) dekat dengan teman perempuan bernama N di kampungnya. Kecuali itu beberapa waktu kemudian dari telepon selulernya saya melihat dia juga mendekati R dan mengatakan kepada R bahwa saya mantannya. Pertanyaan saya:

1. Apa yang sebenarnya dialami W karena begitu mudah dia berganti pacar?

2. Apakah W seorang hiperseks?

3. Dalam Facebook ternyata W juga mengekspos foto dirinya dengan beberapa perempuan, padahal dia juga menyatakan sedang berencana untuk menikah dengan seorang gadis bernama N. Mohon pendapat ibu.

Terima kasih, Salam hangat N

Analisis kasus
Hal pertama yang harus dilakukan Anda adalah cobalah mencermati karakteristik sehat mental yang telah saya utarakan di atas.

Setelah Anda mampu menempatkan posisi Anda yang saya harap masih berada dalam rentang dimensi sehat mental, Anda seyogianya mulai mencermati rangkaian perilaku W yang dalam waktu singkat berganti-ganti pacar dan mengekspos foto dirinya bersama beberapa pacar-pacarnya sambil mengumumkan rencana pernikahannya dengan N melalui Facebook.

Kondisi psikologis W tersebut menunjukkan bahwa W memiliki kepribadian yang ditandai oleh perasaan megalomania (merasa diri pria yang hebat dan banyak disukai oleh perempuan).

Untuk mengatakan bahwa W seorang yang hiperseks adalah satu hal yang tidak mudah. Yang pasti tampaknya karakteristik megalomania yang ada pada dirinya adalah manifestasi dari rasa rendah diri yang amat dalam.

Seorang yang merasa rendah diri yang amat sangat merupakan salah satu karakteristik kepribadian yang psikopatologi. Saat ini apa yang bisa saya sarankan adalah masalah yang Anda hadapi saya pulangkan pada diri Anda sendiri untuk dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi kehidupan Anda di masa mendatang.

Sekian, semoga kehidupan Anda diwarnai kesejahteraan dan kebahagiaan mental sepanjang masa.

Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved