Pelaku Industri UKM Tidak Takut Persaingan MEA 2015

mereka yakin barang yang dihasilkan dan dijual berkualitas baik sehingga yakin menang bersaing dengan produk luar

Editor: Andy Pribadi
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA

WARTA KOTA, SENAYAN - Memasuki masyarakat ekonomi Asean pada akhir tahun 2015, para pelaku usaha mesti bersiap.

Pasalnya, persaingan tidak lagi dengan pengusaha dalam negeri, namun juga dengan barang-barang yang berasal dari luar negeri.

Meski begitu, para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) mengaku tidak takut menghadapi MEA.

Pasalnya, mereka yakin, barang-barang yang dihasilkan dan dijualnya memiliki kualitas yang baik sehingga yakin menang bersaing dengan produk luar.

Siti Chotirah, pengusaha asal Madiun yang membuka toko home decor di Kemang Utara, Jakarta Selatan, mengaku bahwa setiap pengusaha kecil dan menengah pasti memiliki kekhawatiran akan persaingan.

"Khawatir pasti ada, tetapi dengan adanya inovasi, kreasi baru, dan juga keseriusan dari pengusaha pasti kita bisa bersaing. Apalagi, kualitas produk kita ini sangat baik," katanya pada Wartakotalive.com di JCC Senayan, Rabu (8/4) siang.

Perempuan yang akrab disapa Tira itu mengatakan, saat ini meski belum melakukan ekspor sendiri, sudah banyak pembelinya yang berasal dari luar negeri. "Memang terkait dengan krisis global kita terpengaruh juga, tetapi masih ada peluang jika kita berinovasi," katanya.

Pengusaha yang memulai karir sejak masih muda itu tidak takut persaingan MEA akan membuat bisnis yang digeluti puluhan tahun itu terpuruk.

Hal senada dikatakan Maya, dari Diladelvia Jewellry, yang fokus usahanya menjual mutiara asal Ambon. Menurutnya, dalam menghadapi MEA, dirinya percaya diri. Lantaran kualitas mutiara Ambon sangat baik dibandingkan dengan mutiara-mutiara dari perairan di Indonesia dan dunia.

"Mutiara Ambon paling baik kualitasnya dibandingkan dengan mutiara lain, kualitas mutiara bisa dilihat dari kilauannya. Makin berkilau, makin baik kualitasnya. Makin mahal harganya," katanya.

Karena itu, dia yakin usahanya yang sudah merambah ekspor ke negara-negara di Asia seperti Hongkong, Jepang dan banyak negara lain itu tidak akan terpuruk meski saingannya dari luar negeri sekalipun.

Rabu (8/4) pagi tadi, pemeran kerajinan dan industri kreatif yang terbesar di Indonesia mulai digelar di JCC Senayan hingga Minggu (12/4). Sebanyak 1600 lebih pelaku industri kreatif dari dalam negeri ikut pameran ini. Mereka menampilkan banyak hasil industri kreatif mulai dari tekstil, perhiasan, hingga perlengkapan rumah tangga dari kayu dan rotan.

Thamrin Bustami, Ketua Umum BPP Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi), mengatakan pelaku industri UKM di Indonesia siap untuk bersaing di kancah MEA.

"Siap untuk bersaing? Siap, karena kita punya sentuhan seni yang khas, sumber baku banyak, perajin banyak. Jadi tidak usah takut. Asalkan ada dukungan permodalan pemerintah, fasilitas transportasi angkutan murah, kita siap," kata Thamrin usai pembukaan Inacraft 2015.

Berkaitan pasar bebas Asia, Asephi juga sudah bergabung dengan Asian Handycraft Promotion Assosiation Development (Ahpada). "Kita kerjasama, meeting ke Filipina, Thailand, ikut pameran dengan stand gratis, semuanya untuk memperkenalkan kerajinan Indonesia," katanya.

Selain itu, Asephi juga melakukan pembinaan yang terus menerus. Misalnya saja, membantu industri kreatif UKM dengan bantuan desain dari ahli desain dan lain-lain. (Agustin Setyo Wardani)

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved