Minggu, 24 Mei 2026

Bocah TK Disodomi

JIS Duga Ada Permainan Ganti Rugi Uang Rp 1,6 Triliun

Harry Ponto menilai ada dugaan rekayasa dalam kasus kekerasan dalam dunia pendidikan.

Tayang:

WARTA KOTA, SETIABUDI - Kuasa hukum Jakarta Internasional School (JIS)‎, Harry Ponto, menilai ada dugaan rekayasa dalam kasus kekerasan dalam dunia pendidikan.

Pasalnya, dalam beberapa kesempatan orang tua pelapor menggugat JIS sebesar 125 juta dolar AS atau senilai Rp1,6 triliun.

Padahal, pertama kali ibu korban pada 21 April 2014 lalu hanya meminta uang ganti rugi sebesar 12 juta dolar AS.

Setelah melihat referensi hukum, pihak JIS tidak ingin menggantinya. Ada informasi yang menyarankan kepada pihak JIS untuk membayar orang tua murid sebesar 13,5 juta dolar.

Namun, karena memang tidak ada biaya sehingga tidak dibayarkan.

"‎Pada bulan Mei 2014, bu pertama merubah gugatannya menjadi 125 juta dolar AS atau senilai Rp 1,6 triliun," ucapnya.

Saat itu, kata dia, masih persidangan terhadap cleaners yang bekerja di JIS. Namun, itu ditolak oleh pihak JIS.

Oleh sebab itu, orang tua korban pertama melaporkan dua guru JIS lainnya. Karena menilai kalau cleaners bukanlah dari karyawan JIS melainkan outsourching.

"Mungkin memang mau menutup JIS dan ada maksud dibalik ini," tuturnya.

Tidak ada unsur sodomi
Sementara itu, kuasa hukum JIS lainnya, ‎Patra M Zein menantang para ibu korban untuk membuktikan kekerasan tanda-tanda sodomi yang dilakukan oleh pihak JIS.

Menurutnya, dua guru JIS Neil Bantleman dan Ferdinan Tjiong Tidak bersalah.

"Dari laporan medis rumah sakit di Singapura mengatakan bahwa tidak ada kekerasan pada anus korban," tuturnya.

Menurutnya setelah ibu korban gagal mendapatkan hasil positif dari rumah sakit di Singapura, maka dia pindah ke rumah sakit di Indonesia.

Dari situlah, salah satu oknum dokter di Indonesia mengeluarkan visum tentang bagian dalam anus anak tanpa melibatkan dokter anestesi.

"Hasil visum itu terlihat rekayasa sebab apabila tidak dilakukan bios total terhadap anak maka tidak mungkin dapat dilakukan anuscopy untuk mengetahui bagian dalam anus anak," ungkapnya.

Orang tua murid tetap yakin integritas JIS
Ayu salah seorang orang tua murid dari JIS yang mengikuti kasus itu sejak awal mengatakan tetap percaya dengan ajaran yang diberikan oleh sekolah internasional itu.

Secara logika, kata dia, orang tua mana yang tidak khawatir kalau anaknya bersekolah di tempat yang membahayakan bagi anaknya.

Namun, karena rasa percaya kalau kejadian itu tidak pernah terjadi. Maka, dia bersikukuh dengan orang tua murid lainnya untuk menitipkan anaknya agar tetap mengenyam pendidikan di JIS.

Selain itu, selama berbulan-bulan orang tua murid juga ikut mengunjungi para terdakwa yaitu cleaners di lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang.

Hal itu untuk mencari keadilan kepada rakyat kecil.

"‎Saya setiap bulan, ke penjara. Bukan saya, bu maya dan ibu-ibu lainnya juga. Ini orang (cleaners_ kecil, dan tidak mau ada yang membela. Kami satu komunitas JIS. Setiap kali mengumpulkan uang untuk enam orang petugas kebersihan. Karena ngga bela mereka," kata dia.(bin)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved