Pasar Rumput Semakin Memprihatinkan

Atap yang sudah tidak layak dan kondisi bangunan yang sudah keropos membuat para pedagang khawatir bangunan itu akan roboh.

Pasar Rumput Semakin Memprihatinkan
Warta Kota/Bintang Pradewo
Kondisi Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (30/3) yang sangat memprihatinkan. Rencananya akan ada revitalisasi Pasar Rumput. 

WARTA KOTA, SETIABUDI - Kondisi gedung Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (30/3) siang sudah sangat memprihatinkan. Para pedagang harus memakai terpal dalam menghalau cuaca panas dan hujan. Namun, mereka tetap bersemangat untuk mencari nafkah di pasar yang berdiri sejak tahun 1974 itu.

Pantauan Warta Kota, atap gedung pasar yang memiliki luas sekitar 22.710 meter persegi itu sebagian sudah tidak ada. Hal ini dikarenakan musibah kebakaran tahun 1999 lalu. Kios-kios para pedagang di lantai satu pun banyak yang kosong. Sementara untuk los-los pedagang basah atau lebih dikenal penjual sayuran masih tampak ada transaksi penjualan.

Atap-atap yang sudah tidak layak dan kondisi bangunan yang sudah mulai keropos membuat para pedagang khawatir bangunan itu akan roboh. Pasalnya, sesuai dengan hak pemakaian tempat usaha hanya diperbolehkan sampai 20 tahun saja. Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana merevitalisasi pasar tersebut.

Konsep yang akan diberikan adalah, di bagian atas gedung akan dibangun apartemen dan di bagian bawah akan terdapat pasar yang modern dan bersih. Namun, wacana itu seakan hanya omong kosong belaka. Pasalnya, hingga saat ini pasar yang dihuni oleh seribu lebih pedagang itu masih tetap lusuh dan tidak terawat.

Iskandar (35), salah seorang pedagang sepatu mengaku kondisi pasar memang sudah sangat memprihatinkan. Hal ini menyebabkan pengunjung mulai sepi. Dia mengaku siap mendukung program pemerintah dalam merevitalisasi pasar itu.

"Infonya akan direvitalisasi oleh pemerintah. Namanya, rakyat kita nurut-nurut saja. Yang kami takutkan adalah biaya sewa kios yang akan meningkat setelah revitalisasi," kata pria yang sudah berdagang di Pasar Rumput sekitar 10 tahun itu kepada Warta Kota.

Dia mengaku telah membayar sewa kios selama 1 tahun sebesar Rp 10 juta. Akan tetapi, penghasilan yang didapatkannya menurun drastis. Per hari, kata dia, hanya bisa mengantungi keuntungan sebesar Rp 300.000. Padahal, dahulu sebelum kebakaran terjadi dia bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1 juta per hari.

"Sekarang mah sudah sepi. Mungkin, kalau direvitalisasi akan bangkit lagi. Karena di Pasar Rumput terkenal dengan penjualan sepatu-sepatu second," ungkap bapak dari dua orang anak itu.

Selain itu, dia mengeluhkan kondisi pasar yang sangat becek saat hujan tiba. Tampias air hujan sampai masuk ke dalam kios. Hal ini dikarenakan tidak adanya atap bangunan yang sudah habis di lalap si jago merah.

Halaman
123
Penulis:
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved