JK: Kebutuhan Beras Masyarakat Indonesia 114 Gram Per Hari
Hasil eksperimen, Wapres Jusuf Kalla menyimpulkan kebutuhan beras masyarakat 114 gram per hari
WARTA KOTA, GAMBIR - Dari dalam ruang rapat, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, tiba-tiba keluar dan langsung berucap "kita butuh nampan yang besar," sembari merentangkan tangannya mencoba menggambarkan seberapa besar nampan yang ia maksud. Ia mengatakan hal itu kepada sejumlah pegawai kantor Wapres, yang mengurus eksperimen beras nya hari ini.
Di depan pintu keluar ruang rapat itu, terdapat meja panjang yang dibalut kain putih, di mana terdapat empat buah penanak nasi elektrik di atasnya, sebuah timbangan kecil, serta belasan piring berlogo burung Garuda. Peralatan itu hari ini digunakan untuk eksperimen beras yang digagas Wapres.
Saat Jusuf Kalla keluar dari ruangannya, nasi di dalam setiap penanak nasi itu sudah matang. Ia segera memerintahkan pegawai kantor Wapres untuk memindahkan nasi dari dalam penanak ke piring yang ada di meja.
Ia sembari tersenyum-senyum, melongoki satu persatu penanak nasi yang ada di meja. Dalam kesempatan tersebut ia sempat bercanda, dengan mengatakan kepada wartawan yang meliput di ruangan itu," ini demo masak,"
Tiap penanak nasi elektrik itu mewakili lembaga yang berbeda. Paling kanan, berisi penanak nasi berisi 240 gram beras. Angka tersebut didapat dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Badan Pusat Statistik (BPS), terkait kebutuhan beras seseorang setiap harinya.
Di sebelah kirinya terdapat penanak nasi berisi 312 gram beras, yang mewakili estimasi Kementerian Perdagangan soal kebutuhan nasi seseorang. Di sebelahnya lagi terdapat penanak nasi berisi 340 gram beras, yang mewakili estimasi Kementerian Pertanian.
Di ujung paling kanan, terdapat penanak nasi berisi 380 gram beras. Angka tersebut didapat dari survei BPS yang dilakukan tanpa melibatkan kementerian lain.
Wapres menunjuk salah satu penanak nasi yang mewakili estimasi BPS, dan memerintahkan pegawai yang mengurus eksperimen tersebut untuk mengeluarkan nasi dari penanaknya dengan mengatakan "Coba pindahkan BPS dulu,"
Di belakang JK terdapat sejumlah menteri, termasuk Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Kepada Amran ia menuturkan bahwa tiap lembaga memiliki estimasi yang berbeda. Dengan eksperimen tersebut dapat diketahui berapa banyak beras sebenarnya yang dibutuhkan seseorang perharinya. Kata dia hasil eksperimen tersebut juga akan membantu Kementerian Pertanian.
"Ini sebenarnya menolong pertanian, kalau tidak setengah mati, konsumsi kita tidak setinggi orang hitung, ini menolong anda," kata JK kepada Amran.
Setelah semua nasi dipindahkan ke piring dari penanaknya, Jusuf Kalla kemudian memerintahkan agar nasi dari tiap penanak dipindahkan ke tiga piring. Hal itu dilakukan untuk memberi gambaran yang lebih jelas, karena masyarakat makan sebanyak tiga kali dalam satu hari.
"Coba kau bagi tiga, bagi tiga semua, kira-kira mana yang paling mendekati," ujar Jusuf Kalla ke pegawai kantor Wapres
Wapres sempat mengaduk-ngaduk nasi di beberapa piring yang ada di atas meja. Ia lalu menunjuk nasi yang di ujung meja yang mewakili estimasi BPS dan mengatakan,"Saya (makan) satu hari (sebanyak) itu,"
Ditengah-tengah eksperimen itu, Menteri Kordinator Perekonomian, Sofyan Djalil sempat bercanda dengan mengatakan, "ini namanya common sense statistik,"
Dari hasil eksperimen tersebut akhirnya disepakati estimias BPS lah yang paling ideal. Disepakati bahwa kebutuhan masyarakat akan beras adalah 114 gram per harinya. Dengan kata lain pertahunnya Indonesia butuh sekitar 27 juta ton beras.