Citizen Journalism
Berpakaian tapi Telanjang
Padahal fungsi pakaian itu selain menutup aurat juga berfungsi sebagai penutup bentuk tubuhnya
WARTA KOTA, PALMERAH - Allah SWT telah menciptakan macam-macam bahan baku yang dapat untuk membuat pakaian agar supaya anak Adam (manusia) dimuka bumi ini mengenakan pakaian yang baik.
Agama mengajarkan kepada kita supaya kita mengenakan pakaian itu dengan rapi, sopan, baik serta menutupi auratnya. Karena cara berpakaian yang dikenakan oleh seseorang dapat menentukan pribadi seseorang yang berpakaian itu.
Dalam peribahasa Jawa disebutkan:“Ajineng Rogo Amergo Seko Busono”, artinya adalah bahwa harga diri pribadi seseorang itu bisa dilihat dari segi cara ia mengenakan pakaian.
Jika seseorang berpakaian rapi dan sopan serta menutup aurat maka rapi dan baiklah kepribadiannya. Sebaliknya apabila pakaian yang dikenakan seseorang itu tidak rapi dan terlihat bagian auratnya maka akan nampaklah ketidak baikan dan ketidak rapian kepribadiannya.
Adapun maksud dari ungkapan “Berpakaian tapi tidak berpakaian” adalah bahwa seseorang itu mengenakan pakaiannya sangat ketat sehingga bentuk tubuhnya masih kelihatan nyata bahkan semakin nyata.
Padahal fungsi pakaian itu selain menutup aurat juga berfungsi sebagai penutup bentuk tubuhnya agar tidak mengundang pandangan yang negatif dari orang yang melihatnya. Bahkan orang yang melihatnya justru merasa risi serta malu dibuatnya.
Kita sudah sangat sering melihat langsung seseorang mengenakan pakaian yang begitu ketat bahkan ada yang kurang dalam menutup aurat tubuhnya. Namun orang yang bersangkutan justru malah bangga dan senang. Lebih bangga lagi jika ada orang lain yang menyebutnya “tubuhnya seksi” maka ia justru semakin senang.
Dan yang lebih aneh lagi mereka sudah tidak punya rasa malu lagi ketika berada di tempat-tempat umum, dilayar kaca yang ditonton oleh masyarakat Indonesia yang biasa disebut Ketimuran yang masih setia menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya bangsa.
Apabila dilihat dari segi norma budaya bangsa lebih-lebih dari segi agama, bahwa mereka yang berpakain minim itu sebenarnya secara sadar atau tidak sadar telah menurunkan martabat harga dirinya menjadi sangat rendah dan juga murah.
Jika diibaratkan barang dagangan maka barang itu telah diobral dengan harga yang murah yang berada di lapak kaki lima, bagi sang pembelipun masih akan menawar supaya harganya lebih murah lagi. Na'udzubillah min dzaalik (kami berlindung dari seperti itu).
Pembaca yang dirahmati Allah, tentu kita tidak akan mau jika harga diri kita dihargai murah oleh orang lain. Untuk itu saya mengajak kepada saudaraku semua agar mengenakan pakaian yang rapi, sopan serta menutup bentuk tubuhnya, walaupun pakaian-pakain itu bukan yang bernilai mahal.
Dengan demikian kita akan memulyakan kita sendiri dihadapan Allah dan diantara sesamanya. Pribadi yang baik dari sebab berpakaian merupakan awal dari kebaikan semua pribadi harga diri yang dimiliki yang nantinya akan bisa menyusul kebaikan pribadi dari segi moral, akal dan juga akan menjadikan dirinya menjadi seorang yang agamis.
Ketahuilah oleh kita dengan adanya sebuah untaian kalimat yang bijak : “Semua orang adalah telanjang kecuali yang berpakaian untuk kepribadian, dan iman itu adalah telanjang pakaiannya adalah ibadah dan Taqwa”. Semoga bermanfaat, amin.

Nafis Majdi,
Guru PAI SMK Yadika 6
Jatiwaringin - Pondok Gede