Citizen Journalism
Fenomena Begal dan Jegal
Kita berharap aparat kepolisian mampu menuntaskan kasus-kasus begal motor ini dengan menangkap serta menghukum para pelakunya
WARTA KOTA, PALMERAH - Di negara yang kita cintai ini sedang marak terjadi kasus begal motor, dimana kata begal sendiri mempunyai arti merampas secara paksa. Jika dikaitkan dengan motor mempunyai arti mengambil secara paksa motor yang bukan miliknya dengan cara membuat jebakan yang bisa menjatuhkan korbannya.
Kita berharap aparat kepolisian mampu menuntaskan kasus-kasus begal motor ini dengan menangkap serta menghukum para pelakunya sesuai perbuatannya. Tujuannya agar para pengendara motor merasa nyaman berkendara terutama yang berkendara di malam hari.
Fenomena yang sedang terjadi di Negara kita adalah tidak hanya kasus begal motor tapi juga kasus jegal-menjegal, kata jegal sedikit berbeda dengan kata begal, kata jegal mempunyai arti menjatuhkan entah itu jabatan atau karir seorang dengan cara sama-sama membuat jebakan dan jebakan. Dan itu terjadi pada institusi KPK dan Polri, Gubernur dan DPRD yang tadinya kita tidak tahu apa yang mereka lakukan menjadi tahu lewat media masa, media sosial dan media online.
Sebagai anak bangsa turut prihatin dengan apa yang terjadi saat ini, karena mereka berseteru saling membuka aib masing-masing yang pada akhirnya akan terlihat borok-borok yang tidak pantas untuk di perlihatkan. Energi mereka habis tercurah untuk sesuatu yang sifatnya negatif dimana seharusnya energi mereka di habiskan untuk berkonsentrasi pada tugas yang harus di tuntaskan bagi Negara ini, jangan sampai apa yang mereka perlihatkan menjadi tontonan yang akan menjadi tuntunan bagi generasi berikutnya.
Saat ini kita butuh seorang pemimpin yang visioner, yang berpandangan jauh ke depan di dalam menegakkan hukum dan keadilan, bukan pemimpin yang hanya berorientasi pada masa kini saja. Di mana nilai-nilai luhur dari Pancasila yang telah di rumuskan oleh para pendahulu kita? Apakah hanya tinggal sebuah catatan di atas kertas yang dibacakan pada saat upacara bendera, atau hanya tinggal kenangan karena para petinggi negeri ini tidak lagi mengamalkan nilai-nilai luhur dari Pancasila tersebut,
Jangan sampai itu terjadi. Jika para petinggi Negeri ini saling terpecah belah, tidak akan ada keamanan dan kenyaman yang dirasakan oleh penduduk negeri ini, walaupun sebagai orang awam yang belum paham tentang politik, akan tetapi ikut merasakan aksi jegal-menjegal yang terjadi antara petinggi negeri, karena ibarat satu bangunan apa yang terjadi di atas.
Dampaknya terasa sampai ke bawah, belum lagi rakyat dipusingkan dengan kenaikan harga-harga bahan pokok dan rakyat akan berteriak mana janji-janji kalian dahulu ketika berkampanye! Apa yang sudah kalian berikan untuk kami rakyatmu wahai para petinggi negeri!.
Ayolah sudahi perseteruan dan aksi jegal-menjegal kalian, toh ada cara yang lebih baik dalam menuntaskan sebuah permasalahan walaupun tidak semudah itu, tapi marilah duduk bersama untuk bermusyawarah untuk mencapai kata mufakat, kesampingkan ego kalian masing-masing jika memang ingin berjuang atas nama rakyat, tanggalkan sejenak “ label” yang menempel di baju kalian, perlihatkan pada dunia luar bahwa kita adalah bangsa yang taat hukum dan bukan yang mempermainkan hukum.
Berikanlah rakyatmu ini perasaan yang damai dan tentram di dalam menghadapi kehidupan di Negara yang kita cintai ini, dan mari kita jadikan Negara ini Negara yang penuh dengan keberkahan, dimana penduduknya adalah orang-orang yang taat menjalankan agamanya masing-masing, serta menjauhi apa-apa yang di larang di dalam agamanya masing-masing, Semoga!
Lianawati SPdI,
Guru pada RA di Jakarta