Larangan Bir di Minimarket

Larangan Minuman Beralkohol Bisa Picu Geliat Pasar Gelap

Yang jadi masalah adalah kalau permintaan minuman alkohol di minimarket terus tumbuh, sementara pasokan barang di pasar menyusut.

Larangan Minuman Beralkohol Bisa Picu Geliat Pasar Gelap
Kompasiana.com
Minuman bir di loker minimarket. 

WARTA KOTA, TANGERANG - Pengamat Masalah Korporasi, Taufik Ismail berpedapat bahwa regulasi pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket malah bisa membuka peluang kenaikan intensitas kegiatan pasar gelap minuman tersebut.

Diberitakan sebelumnya oleh Warta Kota, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendesak pemerintah untuk kembali mengkaji ulang perihal tata niaga minuman beralkohol golongan A, atau bir yang masih dijual di minimarket.

Menurutnya, konsumsi bir berbanding lurus dengan pendapatan masyarakat yang siap dibelanjakan, atau disposable income.

"Asumsinya, kalau melihat peningkatan jumlah warga kelas menengah di Indonesia, konsumsi minuman beralkohol juga akan meningkat. Yang jadi masalah adalah kalau permintaan minuman alkohol di minimarket terus tumbuh, sementara pasokan barang di pasar menyusut. Ini yang bisa memicu kegiatan pasar gelap minuman alkohol," kata Taufik dalam siaran pers dari Aprindo, Kamis (5/3).

Taufik menuturkan, banyaknya orang mengkonsumsi minuman alkohol oplosan saat ini adalah akibat dari tingginya permintaan yang tidak diimbangi dengan harga yang terjangkau serta tempat penjualan yang resmi.

"Akhirnya mereka mengoplos minuman alkohol golongan B dan C, atau minuman alkohol di atas 5 persen seperti anggur, vodka, brandy, wiski, dan tuak. Sementara, dampak penjualan minuman alkohol golongan A yang kadarnya di bawah 5 persen sendiri hingga sekarang belum ada catatan negatif," katanya. (Banu Adikara)

Penulis: z--
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved