Sabtu, 2 Mei 2026

Menperin Saleh Husin: Harga Gas Industri Harusnya Bisa Lebih Kompetitif

Harga gas untuk industri seharusnya bisa lebih kompetitif. Hal itu penting untuk terus menjaga daya saing industri nasional.

Tayang:
Editor: Lucky Oktaviano

WARTA KOTA, JAKARTA - Harga gas untuk industri seharusnya bisa lebih kompetitif. Hal itu penting untuk terus menjaga daya saing industri nasional.

"Saya berharap harga gas untuk industri bisa lebih kompetitif. Sehingga produk-prduk kita bisa lebih memiliki daya saing
dengan produk luar," ujar Menteri Perindustrian Saleh Husin ketika melakukan kunjungan kerja ke PT Mulia Industrindo tbk di Karawang, Jawa Barat, Kamis (26/2/2015).

Menperin menyadari keluhan utama para pelaku industri saat ini adalah soal harga gas yang terlalu tinggi. Untuk itu, menperin
berjanji akan membawa persoalan ini ke rapat kordinasi tingkat menteri.

Saat ini harga gas untuk industri berkisar pada USD 8 hingga USD 9 per MMBTU. "Padahal di luar negeri harga gas untuk industri
hanya ada pada kisaran USD 4-5 per MMBTU," papar Menteri.

Untuk itu, menperin berharap persoalan gas ini bisa cepat diselesaikan. "Kalau memang bisa tahun ini ya tahun ini. Tapi kan
semua harus dibicarakan dulu. Tetap ada prosesnya," lanjutnya.

Menperin berjanji akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menuntaskan masalah tersebut.

"Sambil menunggu masalah tersebut dibicarakan, optimalisasi penggunaan sumber energi lainnya selain gas perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk keramik nasional," saran Saleh Husin.

Selain pasokan gas, industri keramik nasional saat ini juga masih menemui keterbatasan kemampuan teknologi, fabrikasi, serta
pemasaran dan promosi produk nasional di pasar mancanegara, sehingga saat ini merek/produk keramik Indonesia belum cukup diterima di pasar internasional.

Keterbatasan kemampuan SDM industri keramik, khususnya dalam hal desain dan rekayasa produk.

Selain itu potensi bahan baku di dalam negeri yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal juga merupakan peluang
yang baik untuk meningkatkan daya saing produk, sehingga beberapa perusahaan keramik telah memanfaatkan peluang ini untuk melakukan perluasan baik untuk keramik tile maupun tableware.

Pemerintah akan terus berupaya untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia usaha tetap bergairah melakukan investasinya di Indonesia.

Melemahnya pasar ekspor karena krisis ekonomi dunia juga menjadi masalah lainnya. Kondisi ini diiringi dengan peningkatan
konsumsi pasar dalam negeri, sehingga selama 5 tahun terakhir ekspor keramik Indonesia cenderung tidak mengalami peningkatan.

Padahal penyerapan tenaga kerja yang cukup besar yaitu sekitar 200.000 orang. Kemenperin mencatat, saat ini, terdapat 62 perusahaan yang memproduksi keramik di Indonesia dengan total produksi sebesar 8.298.600 ton, atau 95,10 persen dari kapasitas total sebesar 8.726.100 ton per tahun.

Sebanyak 87 persen produksi keramik nasional dijual di dalam negeri, dan 13 persen lainnya diekspor ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa dan Amerika.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved