Korban Kebakaran Karang Anyar Menolak Pembangunan Rusun
Korban kebakaran di Jl Lautze Raya RW 01 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, menolak pembangunan rusun di kampungnya.
WARTA KOTA, SAWAHBESAR-Lelah mungkin kata yang tepat mewakili perasaan Emi Enji (68) korban kebakaran di Jl Lautze Raya RW 01 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (24/2). Bukan karena dirinya sudah berusia lanjut dan sakit, tetapi usulan revitalisasi pemerintah menurutnya sangat tidak adil.
Perempuan berambut tipis yang hanya mengenakan daster batik lusuh itu mengaku menolak jika permukimannya dibangun rumah susun seperti yang diusulkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat meninjau lokasi pengungsian di kolong Stasiun Sawah Besar, Selasa (24/2) pagi.
Dirinya beralasan, pembangunan Rusun tersebut sangat merugikan dirinya, karena seperti tahun-tahun dan bencana kebakaran sebelumnya, pihak pemerintah hanya menawarkan pembangunan tanpa memberikan ganti rugi yang pantas kepada warga.
"Kalau dibilang kumuh, nggak teratur juga nggak apa-apa. Soalnya, dari pengalaman saya, mulai dari kebakaran tahun 1965, 1981 dan sekarang tahun 2015, omongannya tetep sama, akan dibangun Rusun. Tapi bisa jamin nggak kalau ganti ruginya cukup, sesuai kemauan warga," jelasnya.
Tanggapan serupa pun disampaikan oleh Tini Supardi (35) tetangga Emi. Dirinya mengaku lebih memilih untuk membangun ulang rumah tinggalnya yang kini rata dengan tanah. Karena, menurutnya, walaupun berukuran kecil atau sekitar 4 x 3 meter persegi, rumah tinggalnya bisa dibangun bertingkat, seperti sebelum terjadi kebakaran.
"Biar kecil yang penting punya sendiri, kalau Rusun kan nggak bebas. Sebenernya alasan kita nggak mau dibangun Rusun juga karena kita mau pertahanin tanah, sekarang aja harganya dua puluh juta semeter, gimana sepuluh tahun lagi," jelasnya diamini para ibu-ibu di pengungsian kolong Stasiun Sawah Besar, Selasa (24/2).
Berbeda dengan keinginan warga, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan, pihaknya akan melakukan revitalisasi kawasan kumuh dan padat penduduk di lokasi tersebut. Karena menurutnya, apabila tidak segera ditata, kawasan tersebut akan kembali mengalami musibah serupa.
“Kita harus merevitalisasi kawasan-kawasan seperti itu, kawasan yang kumuh serta padat penduduk. Karena sangat rawan kebakaran,” ungkapnya di sela-sela kunjungan ke lokasi kebakaran di Jl Lautze Raya RW 01 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (24/2).
Alasan dirinya akan mengusulkan langsung rencana revitalisasi, karena melihat kebakaran yang terjadi sangat hebat. Hanya dalam waktu sekitar lima jam, total sebanyak 309 unit rumah di wilayah 13 RT RW 01 Karang Anyar ludes terbakar.
“Persoalannya itu, rumah warga terlalu padat. Sebetulnya banyak lahan di kampung sini yang digunakan para pendatang. Bayangin saja satu RW bisa terdapat 16 RT. Itu kan padat sekali,” ujarnya.
Selain ancaman bahaya, alasan revitalisasi juga karena permukiman warga tidak layak huni. Karena, berdasarkan data yang diperolehnya, sebagian besar warga hanya menempati rumah dengan ukuran rata-rata seluas 3x4 meter dan 2x3 meter.
“Karena itu, perlu pendataan serius untuk merevitalisasi kampung-kampung itu. Kita mau membangun kampung-kampung yang sehat.Apalagi kawasan ini salah satu pusat keramaian sentra ekonominya,” ujarnya.
“Kita akan pikirkan entah mau bikin kampung deret, atau kita pindahkan ke rusunawa atau nanti dijadikan ruang terbuka hijau. Banyak kemungkinannya. Maka butuh pemikiran, pemahaman, dan program yang jelas,” tutupnya.