Kecelakaan Kerja

Polisi: Muktar Terpeleset Sebelum Tewas Terjepit di Lift

Intinya korban kurang hati-hati saat masuk ke dalam lift, makanya dia langsung terjatuh dan tubuhnya terjepit, kata Sihombing.

Polisi: Muktar Terpeleset Sebelum Tewas Terjepit di Lift
Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, BEKASI - Pihak kepolisian telah memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di rumah toko (ruko) gudang elektronik di Jalan Raya Galaxy Blok A Nomor 89, Jakasampurna, Bekasi Barat pada Rabu (18/2) pagi terkait kasus tewasnya Muktar Natzir (22) salah seorang karyawan di gudang tersebut. Selain memeriksa rekaman CCTV, polisi juga telah mengintrogasi Rangga (7), bocah yang pertama kali menemukan Muktar terjepi di lift.

Kapolsek Bekasi Kota, Komisaris Jhon Sihombing mengatakan, dari proses penyidikan tersebut, diketahui korban terpeleset saat hendak memasuki lift. Saat itu korban tengah turun ke lift usai mengecek barang yang ada di lantai tiga. "Saat korban masuk ke lift, kakinya terpeleset dan tubuhnya langsung terjatuh di celah ruang lift dengan dinding lantai," ujar Sihombing pada Rabu (18/2).

Sihombing mengungkapkan, model lift di gudang tersebut memang tidak seperti biasanya. Di lift itu ada celah sekira 20 cm antara ruang lift dengan dinding lantai. Lantaran ada celah itulah, yang membuat kepala korban tersungkur di bawah dan kakinya berada di atas.

"Intinya korban kurang hati-hati saat masuk ke dalam lift, makanya dia langsung terjatuh dan tubuhnya terjepit," kata Sihombing.

Terkait jenazah korban, kata Sihombing, pihak keluarga tidak mau tubuhnya diotopsi. Dengan alasan, pihak keluarga menganggap korban meninggal karena kecelakaan kerja saat mengemban tugasnya. Akhirnya, oleh keluarga, jenazah Muktar diantar ke kampung halamannya di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara pada Selasa (17/2) malam. "Semalam sudah diantar naik pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta," ucap Sihombing.

Menurutnya, pihak pemilik ruko telah bersikap kooperatif. Mereka telah menyantuni dan bersedia bertanggung jawab atas musibah yang menimpa korban. "Kemarin saya dengar pemilik akan bertanggung jawab, bahkan dia telah memberi uang santunan sebanyak Rp 25 juta ke keluarga korban," jelasnya.

Terpisah, Saleh (26) selaku kakak kandung korban mengungkapkan, uang sebesar Rp 25 juta itu sudah habis digunakan untuk biaya pengiriman jenazah dan rombongan keluarga ke kampung halaman. "Kami tidak diberi uang santunan, tapi hanya diberi ongkos dan saat ini uangnya telah habis," kata Saleh.

Menurut Saleh, saat ini jenazah korban sudah dimakamkan keluarga di kampung halaman pada pukul 14.00. Pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi, karena yakin korban meninggal karena kecelakaan kerja. "Saya juga kasihan kalau dia terlalu lama di rumah sakit, karena bagaimanapun juga jenazah harus segera dimakamkan," ujar Saleh. (faf)

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved