Kakek Atu Menangisi Tendanya Dibongkar Satpol PP

Atu (76) tak berhenti menangis, saat tenda miliknya yang berdiri di tengah lintasan Rel Kereta Api (KA) non-aktif Tanjung Priok

Kakek Atu Menangisi Tendanya Dibongkar Satpol PP
Panji Baskhara Ramadhan
Kakek Atu (76) menangis saat tenda yang merupakan tempat tinggalnya dibongkar petugas Satpol PP, Jumat (13/2/2015) di bantaral rel KA Tanjung Priok 

WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK - Atu (76) tak berhenti menangis, saat tenda miliknya yang berdiri di tengah lintasan Rel Kereta Api (KA) non-aktif Tanjung Priok, Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dibongkar petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (13/02).

Di depan tenda yang hanya beratapkan terpal biru dan berpondasikan bilahan bambu, bahkan sudah dibongkar petugas, pria yang akrab disapa 'Kek Atu' hanya bisa duduk lemas dan menangis. Warga yang melihat tenda milik Kek Atu yang sudah berdiri selama 2 tahun, juga turut menangis saat dibongkar petugas.

"Kasihanilah pak.. Sudah nggak usah dibongkar dulu. Toh Atu ini sedang sakit pak. Sakit paru-paru. Masa dia (Atu) lagi istirahat begini, tetep sih pak tendanya di bongkar," ucap Tuti (45), warga bantaran rel, yang mengaku juga sebagai warga di Kawasan Kebon Bayem, RT10/RW12, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Terlihat Atu terus menangis. Dirinya menangis sembari melonjorkan kedua kakinya yang kurus itu di tengah lintasan rel KA yang non-aktif. Beberapa personel mencoba membujuk Atu, untuk segera dibawa ke Puskesmas terdekat.

Nampaknya, Atu takut beranjak di lokasi penertiban, lantaran ia tak mau tenda yang ditempatinya tersebut dibongkar petugas. Kek Atu terus menundukkan kepala saat para petugas Satpol, ingin membopongnya ke puskesmas.

Atu tetap tidak mau dengan menggelengkan kepalanya di depan petugas. Anak Kek Atu, Nurwati (53) mencoba memohon kepada petugas agar tidak ditertibkan.

"Mohon lah pak. Kita di sini terpaksa kok tinggal di rel. Wilayah kita (Kebon Bayem) lagi tergenang air. Nanti kalau semua normal kembali, kita pindah sendiri pak. Tapi kami tetap tidak mau dipindahkan ke Taman BMW. Jorok pak," ujarnya sambil menangis.

Ia juga mengatakan, dirinya sebenarnya berusaha bertahan meskipun banjir sudah sepinggang. Namun lantaran ketinggian air semakin tinggi ia pun terpaksa mengungsi.

"Orang dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) memang sudah memberi kami peringatan. Tapi kan kami tetap mengungsi ke atas rel karena genangan di rumah kami sangat tinggi," ungkapnya.

Meskipun ia tinggal di atas rel kereta api, ia dan keluarganya menggunakan dua lajur rel yang sudah tak aktif dilalui kereta dari Stasiun Tanjung Priok. "Kami selalu hati-hati kok, ini juga kalau sudah surut kami langsung kembali ke rumah kami masing-masing," lanjutnya.(Panji Baskhara Ramadhan)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved