Liputan Khusus

Siswi SMA di Subang Ditukar Motor

Praktik dunia hitam (gadis penghibur) rumahan di Kabupaten Subang, Jawa Barat sulit dibendung.

Warta Kota/Theo Yonathan Simon Laturiuw
Jalan masuk menuju sebuah kampung di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di kampung ini marak lokasi prostitusi rumahan. 

WARTA KOTA, SUBANG - Praktik dunia hitam (gadis penghibur) rumahan di Kabupaten Subang, Jawa Barat sulit dibendung.

Dalam kondisi kemiskinan yang masih menghantui sebagian masyarakatnya, perempuan di pedesaan Subang banyak yang terpaksa terjun ke dunia hitam. Ada anak remaja yang oleh kakaknya 'ditukar 'dengan sebuah sepeda motor.

Yang sangat memprihatinkan, praktik gadis penghibur rumahan itu justru banyak melibatkan gadis-gadis remaja. Bahkan tidak sedikit gadis di bawah umur yang sudah terjerumus ke dunia hitam.

Seperti yang dilakukan Yona (bukan nama sebenarnya), warga sebuah desa di Cipunagara, Kabupaten Subang. Di usianya yang masih belia, 16 tahun, siswi kelas XI sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Subang ini sudah terbiasa menemani laki-laki hidung belang yang datang ke kampungnya.

Berdasarkan cerita seorang calo yang ditemui Warta Kota pekan lalu, Yona kini menjadi salah satu primadona karena parasnya yang cantik, berkulit putih mulus, dan tentunya karena usianya yang masih muda.

"Setiap tamu yang saya kenalkan Yona, hampir tidak ada yang menolak. Yona ini masih muda. Dia memang belum lama menjalani profesi gadis penghibur," jelas MU (42), seorang makelar atau broker yang menjadi perantara pekerja dunia hitam rumahan di rumah milik seorang makelar desa itu.

Siang itu, Yona datang ditemani oleh kakak kandungnya ke rumah si makelar. Sebagai pendatang baru sebagai gadis penghibur rumahan, Yona memang masih terlihat malu-malu.

Sifat dan perangainya juga masih kekanak-kanakan. Tapi itu hanya sesaat. Setelah beberapa saat mengobrol, wajah Yona lama-lama mencair. Ia tidak lagi gugup bercengkerama dengan tamunya.

Berapa tarif Yona sekali menemani tamu? "Kalau saya tidak pernah mematok tarif mahal. Biasanya sekitar Rp 300.000 sekali kencan," katanya. Kencan biasanya di rumah seorang broker yang kerap disebut sebagai rumah kafe atau di rumah Yona sendiri, yang tidak jauh dari rumah kafe itu.

"Kalau boleh milih sih mendingan kencannya di kafe. Kalau di rumah, saya masih suka malu sama bapak dan ibu. Tapi sebenarnya mereka juga nggak apa-apa karena tetangga-tetangga juga begitu. Di sini memang sudah biasa," jelas Yona.

Yona tidak ingat sudah sejak kapan memulai menjalani profesi gadis penghibur, tapi sekitar setahun terakhir. Ia memilih tidak memikirkan dan menganggap aktivitas di dunia hitam sebagai sebuah pekerjaan.

"Sebenarnya terkadang risih kalau dapat tamu yang yang sudah berumur. Tapi bagaimana lagi, namanya juga kerja. Yang penting mah duit. Tamu tua atau muda tidak penting lagi," ujarnya.

Tergiur uang

Keputusan Yona terjun menjadi gadis penghibur dilakukan saat ia masih duduk di kelas X SMA. Bagi Yona, menjadi gadis penghibur sebenarnya mimpi buruk. Tetapi apa daya, keinginannya untuk bisa hidup senang dengan berlimpah uang telah menariknya dengan kuat untuk menjadi gadis penghibur.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved