Konsultasi

Kata Dokter soal Berhenti Merokok

Perokok yang mengonsumsi rokok 15 sampai 20 batang per hari berisiko kena kanker paru 14 kali lipat dibandingkan bukan perokok.

Editor: Andy Pribadi
KOMPAS.com
SHUTTERSTOCK/Ilustrasi. 

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Saya merokok sejak umur 12 tahun. Sekarang saya berumur 42 tahun. Saya masih merokok sekitar 30 batang sehari. Saya sudah berusaha untuk berhenti merokok. Pemeriksaan kesehatan berkala di perusahaan menunjukkan saya menderita darah tinggi dengan sedikit pembengkakan jantung. Saya bebas dari penyakit diabetes melitus ataupun sirosis hati. Keadaan ginjal saya juga baik. Setiap akhir pekan saya berolahraga, bersepeda dengan istri dan anak-anak selama sekitar 2 jam. Saya juga masih aktif bermain badminton.

Keluhan saya sekarang adalah batuk kronik dan dokter mengatakan batuk saya berhubungan dengan kebiasaan merokok saya. Saya dikatakan menderita bronkitis. Hasil fungsi paru terakhir saya menunjukkan penurunan fungsi paru sekitar 10 persen. Usaha untuk berhenti merokok saya jalankan dengan mengurangi jumlah konsumsi rokok. Namun setelah dua bulan saya kembali ke jumlah semula.

Saya juga pernah mengganti rokok dengan buah, tetapi tidak bertahan lama, melihat teman-teman merokok, saya kembali ke kebiasaan merokok saya. Kata teman saya ada obat yang ditempel dapat menghilangkan ketergantungan nikotin, saya cari-cari di apotek tapi tidak pernah bertemu. Sejak dua bulan ini saya menggunakan sigaret elektronik. Saya mulai dapat mengurangi jumlah rokok batangan saya sehingga saya hanya merokok sepuluh batang per hari.

Apakah memang sigaret elektronik lebih aman dibandingkan sigaret konvensional. Saya menunggu informasi Badan POM dan Kementerian Kesehatan, tetapi sampai sekarang ini tampaknya belum ada keputusan dari instansi yang berwenang, sementara penggunaan sigaret elektronik sudah meluas. Terima kasih.

K di J

Dewasa ini masyarakat semakin menyadari bahaya rokok bagi kesehatan. Meski iklan rokok dengan cerdik tetap membujuk orang untuk merokok, namun mulai banyak perokok yang berusaha berhenti merokok. Kita berharap banyak perokok yang berhenti merokok karena menghentikan kebiasaan merokok pada umur berapa saja (meski sudah tua sekalipun) tetap bermanfaat bagi kesehatan.

Perokok yang mengonsumsi rokok 15 sampai 20 batang per hari berisiko terkena kanker paru 14 kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok. Pengaruh rokok pada paru dapat menimbulkan emfisema baru yang pada tahap lanjut dapat menyebabkan tubuh bergantung pada oksigen tambahan sehingga penderita kemana-mana harus membawa tabung oksigen. Penyakit jantung koroner serta hipertensi jauh lebih tinggi pada perokok. Selain itu perokok juga dapat mengalami gangguan kesuburan.

Untuk menolong orang yang ingin berhenti merokok tersedia klinik henti rokok di antaranya di RS Jantung Harapan Kita serta di Layanan Paru RS Persahabatan Jakarta. Klinik ini membantu perokok untuk menghentikan kebiasaan merokok dengan dukungan psikologis serta obat-obat pembantu untuk mengurangi kecanduan nikotin. Dokter praktik juga sudah terbiasa memasukkan nasihat menghentikan kebiasaan merokok kepada pasien-pasien yang masih merokok.

Industri rokok berusaha untuk mengurangi bahaya rokok dengan menyediakan rokok yang mempunyai kadar tar dan nikotin yang rendah, namun perokok yang sudah mengalami ketergantungan nikotin akan mengisap rokok berkadar nikotin rendah ini dengan isapan yang lebih lama sehingga pajanan terhadap tar dan nikotin tetap saja tinggi.

Salah satu strategi industri rokok adalah memasarkan rokok bagi remaja agar menjadi perokok pemula. Karena itulah iklan rokok banyak ditujukan kepada remaja. Kepatuhan terhadap larangan menjual rokok bagi remaja di bawah umur belum terlaksana baik sehingga mereka yang mulai merokok tetap tinggi jumlahnya, pun peraturan dan sanksi yang ada tidak dilaksanakan dengan semestinya. Akibat pengaruh iklan masih banyak remaja yang berpendapat rokok adalah lambang hidup modern dan kesuksesan, sesuai gambaran yang dibuat oleh industri rokok.

Kita berharap agar remaja dapat memahami dengan benar bahaya rokok terhadap kesehatan, baik dirinya maupun orang lain. Peran orang tua, guru serta teman-teman amat penting untuk mencegah remaja merokok.

Rokok elektronik
Rokok elektronik memang mulai populer di negeri kita. Rokok elektronik diharapkan dapat mengurangi pengaruh rokok terhadap kesehatan dan dapat membantu mengatasi ketergantungan nikotin pada mereka yang akan berhenti merokok.

Pada dasarnya rokok elektronik bermacam-macam, dan sayangnya belum terstandar dengan baik. Sebuah artikel di majalah ilmiah kedokteran Tobacco Control edisi Februari 2014 mencoba merangkum berbagai penelitian mengenai pengaruh rokok elektronik terhadap kesehatan. Pada dasarnya rokok elektronik mengandung nikotin, glikol, pewangi, serta beberapa bahan kimia lain dalam bentuk larutan. Larutan ini diisap dalam bentuk aerosol. Penelitian ini menilai pengaruh rokok elektronik bagi pengisap dan juga orang di sekitarnya.

Kesimpulan belum dapat ditarik secara jelas mengenai manfaat maupun bahaya rokok elektronik. Secara terbatas rokok elektronik mungkin membantu proses berhenti merokok, tetapi masih diperlukan penelitian yang lebih besar untuk mendukung kesimpulan yang lebih jelas. Rokok elektronik mengandung nikotin cair yang dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan baik terhadap saluran napas maupun saluran cerna. Kemungkinan terjadi penggunaan nikotin berlebihan melalui rokok elektronik juga perlu dipertimbangkan.

Kita tentu menunggu pendapat Badan POM dan Kementerian Kesehatan mengenai rokok elektronik ini. Memang setahu saya Badan POM belum mengeluarkan izin untuk penggunaan rokok elektronik. Kemungkinan besar lembaga ini masih mengkaji secara mendalam pengaruh rokok elektronik terhadap kesehatan, apakah rokok elektronik lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Sementara ini sikap yang paling aman adalah bagi mereka yang tidak merokok terutama pelajar dan remaja agar jangan mulai merokok. Sementara bagi yang sudah merokok agar segera berhenti untuk menjaga kesehatan pribadi dan keluarga.

Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved