resensi buku

Tradisi Menjaga Harmoni

Dalam kebudayaan orang Mentawai, upacara adat guna mencapai keseimbangan tersebut dikenal dengan nama bebetei uma.

WARTA KOTA, PALMERAH - Hakikat pelaksanaan upacara adat memiliki arti penting bagi masyarakat adat karena dipandang sebagai sarana untuk menyelaraskan hubungan antara alam supranatural dan alam nyata. Ritual yang menjadi kajian Reimar Schefold pada kehidupan suku Sakuddei merupakan tradisi yang dilakukan oleh semua suku (uma) yang tersebar di Pulau Siberut, Mentawai, sebelah barat Sumatera.

Dalam kebudayaan orang Mentawai, upacara adat guna mencapai keseimbangan tersebut dikenal dengan nama bebetei uma. Dijelaskan Bambang Rudito dalam Bebetei Uma: Kebangkitan Orang Mentawai (Gading & ICSD, 2013), upacara ini dimaknai sebagai cara memahami lingkungan guna mencapai kesejahteraan hidup. Kesejahteraan tercapai jika terjalin keselarasan hidup dengan lingkungan.

Bebetei uma merupakan upacara yang mengacu pada kepercayaan asli orang Mentawai, yaitu arat sabulungan atau adat dedaunan. Arat sabulungan mengajarkan manusia untuk menghormati setiap daun. Daun ini memiliki sifat yang bisa mengantarkan manusia pada kesejahteraan. Lalu, pada daun tersebut juga diyakini terdapat makhluk supranatural di dalamnya. Makhluk inilah yang nantinya bisa mengarahkan kehidupan manusia sehingga berjalannya kehidupan manusia bergantung pada sifat dedaunan tersebut.

Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ritual inilah yang selanjutnya dijadikan suatu pranata sosial yang menyeluruh dan mengatur segala status peranan yang berlaku dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap penting oleh masyarakat. Termasuk untuk mengatur wilayah hunian dan hutan.

Bagi orang Mentawai, hutan ditempatkan dan dianggap sebagai ruang sosial dan kultural untuk memenuhi serta mempertahankan hidupnya. Tingginya posisi hutan, ditambah dengan beragamnya komunitas suku yang ada di Mentawai, menyimpan potensi terjadinya konflik antarsuku.

Eratnya hubungan manusia dengan hutan membawa Darmanto dan Abidah B Setyowati melihat lebih jauh dampak kebijakan desentralisasi daerah yang turut menciptakan resistensi di antara suku Mentawai. Dalam buku Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012) disebutkan, desentralisasi membangkitkan gerakan orang Mentawai yang aktif dalam mengambil peran untuk mempertahankan akses dan kontrol terhadap hutan.

Untuk menyikapi segala perubahan yang terjadi tersebut, orang Mentawai memiliki cara yang unik agar mampu bertahan hidup di antara kekuasaan dan kebijakan yang datang dari luar dirinya. Mereka juga selalu kembali pada sistem norma yang bersumber dari nilai-nilai luhur yang tertanam di balik pelaksanaan upacara adat. Ritual adat menjadi sarana membangun solidaritas antaranggota kelompok. Di sini terjadi komunikasi tentang permasalahan sosial bersama dan dicari pemecahannya. Hal ini tentunya menciptakan rasa kebersamaan sekaligus saling menjaga akses mereka terhadap hak wilayah. (AFN/Litbang Kompas)

Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved