Breaking News:

Bambang Widjojanto Ditangkap

Ratna Siap Mati Bela BW

Ratna kini siap menjadi saksi meringankan bagi BW yang disangka polisi menjadi pengarah bagi para saksi untuk memberikan kesaksian palsu.

Editor: Suprapto
Tribunnews/Herudin
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto 

WARTA KOTA, PALMERAH— Ratna Mutiara (52) kini kerap termenung dan bersedih. Pengurus Yasinan di kampungnya ini tak mengira kasus yang menyeretnya ke bui lima tahun silam, kini berimbas ke Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW).

Ratna kini siap menjadi saksi meringankan bagi BW yang disangka polisi menjadi pengarah bagi para saksi, terutama Ratna Mutiara, untuk memberikan kesaksian palsu saat persidangan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, di Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2010 silam.

"Kalau semua mendukung KPK, maka saya juga mendukung. Tapi, saya tidak bisa berjalan seorang diri. Perlu semua (saksi) mendukung. Kalau bisa semua saksi yang 68 orang itu, juga nggak apa-apa. Kalau memang saksi-saksi itu mau bicara, silakan saja dikumpulkan semua," kata Ratna Mutiara kepada Tribun yang tinggal di Desa Kebun Agung, Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Senin (26/1).

Ratna yang setiap harinya bersama sang suami (Samlawi) menjadi petani karet, berani memberikan dukungan ini bukan karena seorang Bambang Widjojanto. Melainkan demi menyampaikan sebuah kebenaran. Kalau untuk kebenaran, mati pun Ratna menyatakan diri siap.

Hidup damai

Bagi Ratna yang berpendidikan hingga SMA ini, tugas seorang wakil ketua serta ketua KPK secara kelembagaan dalam pemberantasan korupsi adalah lebih penting bagi bangsa dan negara.

"Saya sih maunya hidup damai dan sekarang saya sudah hidup damai di sini. Tapi, tiba-tiba di Jakarta lagi ramai seperti ini," tutur Ratna yang kini dipercaya warga menjadi bendahara RT.

Ibu tiga anak ini merasa tak pernah diarahkan oleh BW selaku kuasa hukum calon Bupati dan Wakil Bupati Kotawaringin Barat, Ujang Iskandar-Bambang Purwanto saat sengketa pilkada berproses di MK.

Kesedihan Ratna juga dikarenakan saat ini kasus yang menimpa BW secara tidak langsung mengganggu agenda pemberantasan korupsi di KPK. "Ya pasti saya sedih. Namanya orang, meski saya tidak kenal dia (BW), tapi dulu tahu saja saat BW di MK," ujar Ratna.

Menurut Ratna, tugas seorang BW dan empat pimpinan KPK lainnya adalah sangat besar manfaatnya bagi bangsa dan negara. "Dari mulai Nabi Adam, tidak ada orang yang tidak bersalah. Tapi, sekarang dia di KPK kami usahakan untuk membantu. Memang tidak sepenuhnya orang itu benar. Tapi, apa yang dilaksanakan di KPK sekarang itu lebih penting," ucap Ratna lirih.

Ratna merupakan satu dari 68 saksi yang dihadirkan kubu Ujang Iskandar-Bambang Pur­wanto dalam persidangan sengketa pilkada Kobar di MK.

Pihak Ujang-Bambang menggugat hasil pilkada Kobar yang dimenangi pihak Sugianto Sabran-Eko Soemarno karena menduga ada kecurangan. Saat itu, Ujang-Bambang menggandeng BW sebagai kuasa hukumnya untuk perkara di MK tersebut.

Dalam persidangan di MK, Ratna menyampaikan adanya bagi-bagi uang dan kartu jaminan pekerjaan, kesehatan hingga pendidikan dari pihak Sugianto-Eko ke sejumlah warga.

Menurut Ratna, informasi adanya bagi-bagi uang itu didapatkannya dari pengakuan sejumlah warga kepada dirinya selaku salah seorang tokoh masyarakat. Sementara, soal kartu jaminan pekerjaan, ia ketahui dengan mata kepalanya sendiri.

Ia kembali menegaskan, dirinya menyampaikan kesaksian di persidangan MK tersebut berdasarkan apa yang ia dengar, lihat dan rasakan. Dan kesaksiannya itu bukan lah keterangan palsu. Selain itu, Ratna menegaskan kesaksian itu tanpa ada intervensi ataupun arahan dari BW selaku kuasa hukum Ujang-Bambang.

Namun, setelah MK memutuskan memenangkan gugatan kubu Ujang-Bambang, pihak Sugianto-Eko melaporkan Ratna ke kepolisian lantaran pengakuannya itu dinilai palsu dengan tidak bisanya dihadirkannya saksi fakta.

Akhirnya, Ratna pun diproses hukum dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Maret 2011 memvonisnya dengan hukuman pidana lima bulan penjara kendati tuntutannya adalah 17 tahun. Ia pun bisa langsung bebas dari jeruji besi seiring vonis tersebut karena sudah menjalankan lima bulan kurungan sejak penahanan pada awal proses penyidikan. Ditanya kenapa ia tidak mengajukan Banding, karena enggan kasus itu menjadi berlarut-larut. "Lebih baik saya mengalah saja. Ikhlas," ujarnya.

Saksi lain adalah Muhammad Suherman, yang mengatakan bahwa Bambang yang kala itu menjadi salah seorang kuasa hukum pasangan Ujang-Bambang, justru meminta para saksi tak berbohong. “Seingat saya Pak Bambang malah nyuruh kami agar menyampaikan apa yang kami rasakan, dengar, dan lihat, karena Bapak akan disumpah,” katanya.

Pada 2010, Suherman menjadi koordinator saksi dari kubu Ujang-Bambango untuk Kecamatan Pangkalan Banteng, Kobar. Karena dalam pemilihan, kubu Ujang yang meraih 55.000 suara, dikalahkan oleh pasangan Sugianto-Eko yang menyabet 67.000 suara.

Karena merasa ada kejanggalan, Ujang pun menggugat kemenangan Sugianto-Eko ke MK. Suherman lalu membawa delapan saksi untuk menghadiri persidangan, yakni Ratna Mutiara, Marsianto, Aceng, Sabri, Jariya, Dewi, Musripan, dan Sunardi. Total, saksi kubu Ujang ada 68 orang.

Dalam kesaksian di MK, Suherman dan saksi lain menyampaikan soal pengalamannya memergoki praktik politik uang kubu Sugianto. Belakangan, salah seorang saksi, Ratna, diadukan Sugianto telah memberi kesaksian palsu. Ratna akhirnya dihukum lima bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Bupati Kotawaringin Barat Ujang Iskandar menyatakan kasus Ratna tak terkait perselisihan pilkada. Ratna menyebut salah seorang kepala desa menerima sesuatu dari Sugianto, tetapi seteklah dicek ternyata tidak bisa dibuktikan. (tribun/tim/sab/bum)

Informasi lebih lengkap, silakan baca koran WARTA KOTA edisi Selasa (27/1/2015)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved