Camat Todong Airsoft Gun

Inspektorat DKI: Camat Penjaringan Pasti Dapat Sanksi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan akan memberikan sanksi tegas kepada Camat Penjaringan Yani Wahyu Purwoko

istimewa
Yani Wahyu Purwoko 

WARTA KOTA, GAMBIR - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan akan memberikan sanksi tegas kepada Camat Penjaringan Yani Wahyu Purwoko karena diduga melakukan penodongan terhadap korban RM di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Namun, untuk pemberian sanksi itu perlu adanya pendalaman dari saksi yaitu korban yang dilakukan penodongan.

Inspektorat DKI Jakarta, Lasro Marbun mengatakan pekan ini, pihaknya akan mengundang RM untuk menyampaikan keterangan mengenai kejadian tersebut. Setelah mendapatkan keterangan dari RM, maka pihaknya akan memberikan rekomendasi sanksi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

"Tindak tegas pasti ada, tapi memang perlu menunggu hasil dari laporan korban," kata Lasro di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (26/1).

Mantan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta itu mengatakan bahwa berdasarkan laporan yang diberikan Yani senjata yang digunakan dengan jenis airsoft gun. Mengenai informasi yang beredar dilapangan, yakni Yani menodongkan senjata api bukan airsoft gun. Serta senjata tersebut sempat ditembakkan ke arah bawah dan terdengar suara letusan senjata api.

 "Ya itu masalah lain. Tapi yang jelas, dari Camat Penjaringan, informasi yang berhasil kami himpun adalah dia memang membawa senjata airsoft gun yang diletakkan di meja," ujarnya.

 Menurutnya, Yani memang sempat melakukan perdebatan dengan RM. Dalam perdebatan itu Yani menggunakan bahasa yang kurang baik. Lalu dia mengakui memiliki senjata airsoft gun, tetapi izinnya sudah kadaluarsa. "Dia belum ada waktu untuk mengurus perpanjangan izin senjatanya. Karena sibuk mengurus penertiban Waduk Pluit. Itu informasi yang dapat kami peroleh," tuturnya.

Kesimpulan sementara yang diambil Inspektorat Provinsi, lanjutnya, adalah sudah pasti ada kekeliruan dalam sikap Yani tersebut. sebagai abdi masyarakat, Yani tidak boleh menyakiti warganya, meski saudaranya sendiri. Lalu, bila senjata tidak punya izin, tidak boleh dibawa saat bertugas.

 Meski mengetahui kejadian ini merupakan kejadian kedua kalinya yang dilakukan Yani. Sebelumnya dilakukan di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Lasro mengatakan peristiwa di Kampung Bali bukan urusannya, karena terjadi pada saat dirinya belum menjadi Kepala Inspektorat.

 "Kalau itu kan masalah dulu. Bukan saya. Kalau saya yang sekarang. Tapi yang menggembirakan, mereka damai di polisi mengenai hubungan interpersonal. Kalau masalah senjata itu masalah polisi. Kalau masalah attitude (sikap) itu tanggung jawab kita. kita akan tentukan sanksi sesuai PP No. 53/10. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan dari kami," kata dia.

Penulis:
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved