Breaking News:

Betonisasi

DPRD Depok Kecewa kepada Dinas Bimasda

Fraksi PDIP DPRD Kota Depok kecewa data argumen tertulis dari Dinas Bimasda Depok tidak menyertakan data argumen penguat mengenai batas wilayah.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Hertanto Soebijoto
Wartakotalive/Budi Sam Law
Ruas Jalan Jati Raya Timur di Kelurahan Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere, Kota Depok, sudah berlubang dan sudah mengalami tambal sulam. Padahal ruas jalan ini baru saja dibetonisasi sekitar sebulan lalu yakni pertengahan Desember 2014. 

WARTA KOTA, DEPOK - Fraksi PDIP DPRD Kota Depok mengaku kecewa karena data argumen tertulis dari Dinas Bimasda Depok mengenai dugaan penyimpangan betonisasi di Jalan Jati Raya Timur yang dilakukan Desember 2014 lalu, tidak menyertakan data argumen penguat mengenai batas wilayah.

Padahal, dugaan penyimpangan muncul dan menguat karena warga melaporkan bahwa betonisasi di Jalan Jati Raya Timur, juga dilakukan Dinas Bimasda Depok di ruas jalan yang masuk ke wilayah DKI Jakarta.

Anggota Fraksi PDIP DPRD Depok, Sahat Farida Berlian boru Saragih, mengatakan pihaknya sudah menanyakan hal ini kepada Hardiman, selaku Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Bimasda Depok. Namun jawaban yang diterimanya kurang memuaskan.

"Mengapa data argumen tertulis yang diberikan ke kami soal batas wilayah tidak ada, sudah kami tanyakan. Tapi dia malahan menyuruh kami menanyakan ke Lurah Pangkalan Jati terkait Jalan Jati Raya Timur ini. Kami kecewa atas ini," kata Sahat.

Mengenai izin amdal atas betonisasi di Jalan Jati Raya Timur yang dipertanyakan pihaknya, kata Sahat, dalam data argumen tertulis yang diterimanya, Dinas Bimasda Depok melandaskannya pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 17 Tahun 2001.

Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup itu, tambah Sahat, betonisasi jalan yang panjangnya di bawah 5 Km tidak wajib memiliki izin amdal untuk pengerjaannya.

"Untuk ini kami beranggapan memang tidak wajib jika mengacu peraturan menteri. Namun tidak wajib bukan berarti tidak perlu. Sebab faktanya dari betonisasi itu banyak kerugian dan keluhan yang dialami warga," kata Sahat.

Di antaranya kata dia ketiadaan saluran air di ruas jalan yang dibeton membuat jalan selalu digenangi air. Ini membuat betonisasi rapuh dan rusak.

"Bahkan baru sebulan dibeton, jalan sudah rusak dan sudah tambal sulam. Bahkan tambal sulam dengan pengaspalan juga tampak serampangan," kata Sahat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved